Kamis, 22 Februari 2018

KTK swiiib


Bahasa Indonesia

cakupan materi bahasa indonesia

I.  PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Materi pembelajaran hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan cakupan materi menggambarkan berapa banyak materi  yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari atau dikuasai oleh siswa.

Ada dua aspek dalam keterampilan atau kemampuan berbahasa, yakni keterampilan berbahasa reseptif dan keterampilan berbahasa produktif. Keterampilan berbahasa reseptif adalah terampil atau mampu menerjemahkan kembali kode-kode bahasa menjadi sebuah makna dalam komunikasi baik lisan maupun tertulis. Sedangkan keterampilan berbahasa produktif adalah terampil atau mampu membuat kode-kode kebahasaan yang bermakna dalam komunikasi baik lisan maupun tertulis. Bidang kajian yang terkait dengan materi atau bahan ajar sangat banyak. Setidaknya, dikelomokkan menjadi kelompok bahan ajar kebahasaan, keterampilan berbahasa, serta kesusastraan. Bidang pengajaran bahasa dan sastra indonesia, rung lingkupnya bisa mencakup: aspek kebahasaan yang terdiri dari sistem bunyi (fonem), kata (morfem), kalimat (sintkas) sampai makna (semantik). Sementara aspek keterampilan berbahasa terdiri dari keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) dan keterampilan produktif (berbicara dan menulis). Sedangkan aspek kesusastraan meliputi puisi, prosa, dan drama.

 

 

1.2         Rumusan Masalah

Apa saja cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD?Bagaimanakah pembelajaran Bahasa Indonesia secara terpadu?Bagaimana analisis cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD yang terdapat dalam buku paket Bahasa Indonesia SD kelas 4 semester 2?

 

1.3         Tujuan

Menjelaskan cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SDMenjelaskan pembelajaran Bahasa Indonesia secara terpaduMenjelaskan analisis cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD yang terdapat dalam buku paket Bahasa Indonesia SD kelas 4 semester 2

II  PEMBAHASAN

2.1  Cakupan Materi Ajar Bahasa Indonesia SD

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, baik reseptif maupun produktif, yang diharapkan dapat menunjang keberhasilan siswa dalam mempelajari bidang studi lain (Azmy, Bahauddin. 2012:2).

Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD terdiri dari aspek kebahasaan, keterampilan, dan kesusastran. Aspek kebahasaan meliputi sistem bunyi (fonem), kata (morfem), kalimat (sintkas) sampai makna (semantik). Aspek keterampilan meliputi  keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) dan keterampilan produktif (berbicara dan menulis). Sedangkan aspek kesusastraan meliputi puisi, rosa, dan drama.

Bahan ajar atau materi ajar merupakan seperangkat materi pembelajaran

(teaching materials) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari

kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran (website

Dikmenjur Depdiknas). Ketersediaan bahan ajar merupakan tanggung jawab pendidik yang berfungsi sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa; pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya; dan alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran (Direktorat Pembinaan SMA, 2008: 6)

2.1.1  Kebahasaan

Aspek kebahasaan bahasa Indonesia meliputi, aspek bunyi, bentukan kata, kalimat, dan makna. Aspek kebahasaan tidak secara eksplisit dituangkan di dalam KTSP, namun dalam pembelajaran bahasa Indonesia aspek kebahasaan tidak dapat dipisahkan dari komponen keterampilan berbahasa dan bersastra. Aspek kebahasaan merupakan unsur pembentuk bahasa yang dipakai dalam kegiatan berbahasa. Pembelajaran aspek kebahasaan bukan hal yang dapat begitu saja ditinggalkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, namun juga bukan berarti dominasi pembelajaran bahasa dilakukan pada aspek kebahasaan (Azmy, Bahauddin. 2012:7).

Materi pembelajaran kebahasaan, meliputi bunyi atau huruf, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna. Materi pembelajaran kebahasaan di kelas awal SD meliputi pengenalan bunyi atau huruf, lafal, intonasi, kata, dan kalimat sederhana. Materi pembelajaran kebahasaan di kelas tinggi SD, meliputi merangkai kata menjadi kalimat dengan bahasa yang baik dan benar (ejaan yang tepat dan pilihan kata yang tepat dan santun).

a. Bunyi (Fonem)

Fonem adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat membedakan arti atau makna (Gleason,1961: 9).

b. Lafal

Lafal adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Bunyi bahasa Indonesia meliputi vokal, konsonan, diftone, gabungan konsonan.

c. Intonasi

Intonasi adalah naik turunnya lagu kalimat. Intonasi berfungsi sebagai pembentuk makna kalimat

d. Kata (Morfem)

Morfem adalah bentuk terkecil yang dapat membedaka makna dan atau mempunyai makna. Wujud morfem dapat berupa imbuhan, klitika, partikel dan kata dasar (misalnya –an, -lah, -kah, bawa). Sebagai kesatuan pembeda makna, semua contoh wujud morfem tersebut merupakan bentuk terkecil dalam arti tidak dapat lagi dibagi menjadi kesatuan bentuk yang lebih kecil. (Lamuddin, 2012:4)

Menurut bentuk dan maknanya, morfem dikelompokkan menjadi 2 yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua kata dasar tergolong morfem bebas. Morfem terikat, yaitu morfem tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. (Lamuddin, 2012:5)

Makna morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem lainnya. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi awalan dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat. Selain itu unsur-unsur kecil seperti klitika, partikel, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri, juga tergolong sebagai morfem terikat.

 

e. Kalimat (Sintkas)

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan suatu pikiran yang utuh . kalimat ada yang berupa fakta ada pula yang berupa opini. (Widjono, 2010:11)

Kalimat fakta adalah kalimat yang berisi peristiwa atau berita yang pasti. Mempunyai data yang valid dan dapat dibuktikan. Sedangkan kalimat opini adalah kalimat pernyataan yang berupa perkiraan atau pendapat terhadap suatu hal baik yang tidak pasti atau belum terjadi, tidak membutuhkan data yang valid dan bersifat subjektif.

2.1.2  Keterampilan Berbahasa

Komunikasi menurut Tohir, Muhammad (2011) adalah hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dalam melakukan interaksi komunikasi, manusia tidak bisa terlepas dari komunikasi lisan dan tulisan. Dilihat dari segi aktivitas, ketrampilan komunikasi terbagi menjadi dua yaitu ketrampilan reseptif dan ketrampilan produktif. Ketrampilan reseptif yang terdiri dari membaca dan mendengarkan tidak bisa dipisahkan dengan berbicara dan menulis yang merupakan ketrampilan produktif. Produktif adalah sikap aktif dari manusia dalam menghasilkan sesuatu yang telah diperolehnya.

a.      Aspek Keterampilan Berbahasa Reseptif

Aspek keterampilan berbahasa reseptif meliputi mendengarkan/menyimak dan membaca.

1. Mendengarkan/Menyimak

Menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif lisan. Menyimak dapat diartikan sebagai aktivitas penggunaan alat pendengaran secara sengaja yang bertujuan untuk memperoleh pesan atau makna dari apa yang disimak.  Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan

untuk keterampilan menyimak adalah memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai

peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun dan cerita rakyat (Azmy, Bahauddin. 2012:9).

Mendengarkan/menyimak dapat terjadi dalam 2 situasi yang berbeda, yaitu secara interaktif dan non-interaktif. Mendengarkan/menyimak secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka melalui telepon/sejenisnya dimana komunikasi terjadi secara bergantian antara penutur yang satu dengan penutur yang lainnya (2 orang/lebih) yang melakukan aktivitas mendengarkan dan berbicara sehingga memiliki kesempatan bertanya guna mendapatkan penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang telah diucapkan/meminta penutur untuk melambatkan tempo bicaranya.

Mendengarkan/menyimak secara non-interaktif berlangsung tanpa ada penutur yang berhadapan langsung dengan penuturnya. Situasi ini memiliki kelemahan yaitu tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak dapat meminta pembicara mengulangi apa yang diucapkannya, dan tidak dapat meminta pembicaraan diperlambat.

2. Membaca

Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis yang bertujuan untuk memahami isi bacaan dan maksud penulisnya (Mulyati, 2008).  Membaca merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk reseptif tulis. Keterampilan membaca merupakan modal dasar yang sangat krusial untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Kurang terampilnya siswa dalam membaca dapat menyebabkan terhambatnya siswa untuk mempelajari bidang studi lain. Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan membaca adalah menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama.

Membaca dikelmpokkan menjadi 2 bagian yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan adalah tahap awal dalam belajar membaca yang difokuskan kepada mengenal symbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan dengan huruf-huruf, sehingga menjadi pondasi agar dapat melanjutkan ke tahap membaca lanjut (Dalwadi, 2002). Sedangkan membaca lanjut adalah anak tidak sekedar mengenal symbol atau tanda-tanda tapi sudah mulai mempergunakannya untuuk membaca kata atau kalimat sehingga anak memahami apa yang dibacanya (Amin, 1995).

Pada tahap membaca permulaan anak lebih diarahkan kepada membaca huruf atau kata (Shodiq, 1996). Tahap membaca permulaan dilakukan pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun bagi anak normal dan sembilan tahun bagi anak tunagrahita. Tahap membaca permulaan merupakan saat kritis dan strategis dikembangkannya kemampuan membaca tanpa teks yaitu membaca dengan cara menceritakan gambar situasional yang tersedia.

b.      Aspek Keterampilan Berbahasa Produktif

1. Berbicara

Berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif. Jenis situasi dalam berbicara meliputi: 1) sistuasi interaktif, missalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya aktivitas pergantian antara berbica ra dan mendengarkan; 2) situasi semi-interaktif, misalnya sitiuasi berpidato dihadapan umum secara langsung. Audiens memang tidak dapat melakuka interupsi terhadap pembicara, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka; dan 3) situasi non-interaktif, misalnya berpidato lewat radio/TV. Audiens sama sekali tidak bisa melakukan komunikasi secara langsung dengan narasumber karena berada dalam dua dimensi media yang berbeda.

2. Menulis

Menulis merupakan salah satu aspek kemamouan berbahasa yang bersifat produktif. Kemampuan ini biasanya hadir setelah seseorang diidentifikasi mampu menguasai tiga kemampuan berbahasa lainnya. Kemampuan membaca seseorang biasanya sangat berpengaruh terhadap tingkat kemampuan menulis seseorang.

Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam bentuk kegiatan produktif tulis. Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk tulis. Keterampilan menulis juga memegang peranan penting bagi keberhasilan belajar siswa. Dalam KTSP SD dirumuskan standar kompetensi lulusan untuk keterampilan menulis adalah melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

 

 

2.1.3  Kesusastraan

Pengertian sastra menurut Sumarno dan Saini (dalam situsnya http://sugikmaut.blog.com/)adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa. Pembelajaran sastra di SD ditekankan pada apresiasi sastra Indonesia, khususnya pada apresiasi sastra anak. Yang dimaksud dengan sastra anak adalah karya sastra untuk konsumsi anak, yang dapat ditulis oleh orang dewasa maupun oleh anak. Seperti halnya karya sastra secara umum, sastra anak juga meliputi puisi anak, cerita anak, dan drama anak.

a. Puisi

Salah satu materi karya sastra anak adalah puisi. Karakteristik puisi adalah

adanya baris, bait, dan penggunaan bahasa yang indah. Dalam pembelajarannya, puisi dapat dipakai sebagai media apresiasi reseptif maupun produktif. Unsur-unsur yang ada dalam puisi itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

b. Prosa

Kata prosa berasal dari bahasa latin “prosa” yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat. Sedangkan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun. Jenis prosa lama meliputi: hikayat, kisah, dongeng, dan cerita berbingkai. Sedangkan jenis prosa baru meliputi: roman, novel, cerpen, riwayat, kritik, resensi, esai (http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa).

c. Drama

Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa Yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjkkan dalam suatu tingkah laku, mimik, dan perbuatan. Orang yang memainkan drama disebut actor atau lakon (http://dhono-wareh.blogspot.com/2012/04/pengertian-drama-adalah.html). Drama sebagai karya sastra sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab naskah ditulis sebagai dasar untuk dipentaskan. Dengan demikian tujuan drama bukanlah untuk dibaca seperti orang membaca novel atau puisi. Pokok drama ialah cerita yang membawakan tema tertentu, diungkapkan oleh dialog dan perbuatan para pelakunya. Dialog dalam drama dapat berbentuk bahasa prosa maupun puisi.

 

2.2  Pembelajaran Bahasa Indonesia secara Terpadu

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami (Resmini, Novi. 2008:3).

Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu di sekolah dasar bisa disebut sebagai suatu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan isi kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah kita. Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, anak kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa mereka kerjakan. Jika dalam proses pembelajaran, anak hanya merespon segalanya dari guru, maka mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran yang alamiah dan langsung (direct experiences).

Fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkannya (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai:

Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian (center of interest) yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari mata pelajaran yang bersangkutan maupun dari mata pelajaran lainnyaSuatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anakSuatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan)Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa secara terpadu di sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip yang meliputi: 1) tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan mata pelajaran; 2) tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya; 3) tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa; 4) tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa; 5) tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar; 6) tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat; dan 7) tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

2.3  Analisis Cakupan Materi Ajar Bahasa Indonesia SD yang Terdapat dalam Buku Paket Bahasa Indonesia SD Kelas 4 Semester 2

2.3.1  Mengkaji Materi Ajar Bahasa Indonesia SD Kelas 4 Semester 2

Identitas Buku

Judul                     : Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV

Penulis                   : Umri Nur Aini

Penerbit                 : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Kelas /Semester    : IV / 2

Tahun                    : 2008

Tema / Bacaan

Aspek

Keterkaitan dengan

Materi Lain

Kebahasaan

Pemahaman

(Reseptif)

Penggunaan

(Produktif)

Tema 4 : Pekerjaan 

 

Dalam tema pekerjaan, aspek kebahasaan sudah baik karena tata bahasanya sudah sesuai dengan unsur-unsur kebahasaan diantaranya bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna.

Terdapat aspek pemahaman (keterampilan menyimak dan keterampilan membaca) dalam tema pekerjaan, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Aspek penggunaan (keterampilan menulis dan keterampilan berbicara) sudah terdapat dalam tema pekerjaan, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Tema pekerjaan berkaitan dengan mata pelajaran IPS dan Pendidikan Agama Islam.

Tema 8 :

Budi Pekerti

Dalam tema budi pekerti, aspek kebahasaan sudah baik karena tata bahasanya sudah sesuai dengan unsur-unsur kebahasaan diantaranya bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna.

Terdapat aspek pemahaman (keterampilan menyimak dan keterampilan membaca) dalam tema budi pekerti, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Aspek penggunaan (keterampilan menulis dan keterampilan berbicara) sudah terdapat dalam tema budi pekerti, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Tema budi pekerti berkaitan dengan mata pelajaran PKn dan IPS.

Tema 9 : Informasi

Dalam tema informasi, aspek kebahasaan sudah baik karena tata bahasanya sudah sesuai dengan unsur-unsur kebahasaan diantaranya bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna.

Terdapat aspek pemahaman (keterampilan menyimak dan keterampilan membaca) dalam tema informasi, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Aspek penggunaan (keterampilan menulis dan keterampilan berbicara) sudah terdapat dalam tema informasi, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Tema informasi berkaitan dengan mata pelajaran  Penjasorkes, dan PKn,.

Tema 10 : Lingkungan

Dalam tema lingkungan, aspek kebahasaan sudah baik karena tata bahasanya sudah sesuai dengan unsur-unsur kebahasaan diantaranya bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna.

Terdapat aspek pemahaman (keterampilan menyimak dan keterampilan membaca) dalam tema lingkungan, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa.

Aspek penggunaan (keterampilan menulis dan keterampilan berbicara) sudah terdapat dalam tema lingkungan, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Tema lingkungan berkaitan dengan mata pelajaran  PKn.

Tema 11 : Komunikasi

Dalam tema komunikasi, aspek kebahasaan sudah baik karena tata bahasanya sudah sesuai dengan unsur-unsur kebahasaan diantaranya bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna.

Terdapat aspek pemahaman (keterampilan menyimak dan keterampilan membaca) dalam tema komunikasi, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Aspek penggunaan (keterampilan menulis dan keterampilan berbicara) sudah terdapat dalam tema komunikasi, hal ini dapat dilihat dari Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa.

 

Tema komunikasi berkaitan dengan mata pelajaran IPS.

 

 

2.3.2  Paparan Materi Ajar Bahasa Indonesia SD Kelas 4 Semester 2

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Teks

1.

Mendangarkan

Mendengarkan pengumuman dan pembacaan pantun

 

5.1  Menyampaikan kembali isi pengumuman yang dibacakan

 

Tema 4: Pekerjaan

 Teks bacaan:

 Lowongan pekerjaan

Tema 9: Informasi

 Teks bacaan:

 Pengumuman lomba tari

Tema 10: Lingkungan

 Teks bacaan:

 Pengumuman kebersihan lingkungan

 

5.2  Menirukan pembacaan pantun anak dengan lafal dan intonasi yang tepat

Tema 8: Budi Pekerti

 Teks bacaan:

 Pantun nasehat

Tema 11: Komunikasi

 Teks bacaan:

 Pantun anak

 

2.

Berbicara

Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi berbalas pantun dan bertelepon

6.1  Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat

Tema 8: Budi Pekerti

 Teks bacaan:

 Pantun nasehat

Tema 9: Informasi

 Teks bacaan:

 Pantun nasehat

Tema 10: Lingkungan

 Teks bacaan:

 Pantun nasehat

 

6.2  Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan

Tema 4: Pekerjaan

 Teks bacaan:

 Dialog percakapan

 

Tema 11: Komunikasi

 Teks bacaan:

 Dialog percakapan

 

3.

Membaca

Memahami teks melalui membaca intensif, nyaring, dan membaca pantun

7.1  Menemukan kalimat utama pada tiap paragraph melalui membaca intensif

Tema 9: Informasi

 Teks bacaan:

 Sesudah suatu kegagalan

Tema 10: Lingkungan

 Teks bacaan:

 Mangga milik eyang kakung

 

7.2  Membaca nyaring suatu pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat

a. Tema 8: Budi Pekerti

 Teks bacaan:

 Pengumuman pengadaan bakti sosial

b. Tema 11: Komunikasi

 Teks bacaan:

 Pengumuman lomba baca puisi

 

7.3  Membaca pantun anak secara berbalasan dengan lafal dan intonasi yang tepat

a. Tema 4: Pekerjaan

    Teks bacaan:

    Pantun Nasehat

 

4.

Menulis

Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan, pengumuman, dan pantun anak

8.1  Menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll)

a. Tema 8: Budi Pekerti

 Teks bacaan:

 Kejujuran

b. Tema 11: Komunikasi

 Teks bacaan:

 Surat kabar

 

8.2  Menulis pengumuman dengan bahasa yang baik dan benar serta memperhatikan penggunaan ejaan 

a. Tema 9: Informasi

 Teks bacaan:

 Pengumuman pengadaan pentas seni

b. Tema 10: Lingkungan

 Teks bacaan:

 Pengumuman lomba kebersihan

 

8.3  Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema (persahabatn, ketekunan, kepatuhan, dll) sesuai dengan ciri-ciri pantun

a. Tema 4: Pekerjaan

 Teks bacaan:

 Pantun nasehat

2.3.3  Temuan Materi Ajar Bahasa Indonesia SD dikaitkan dengan GBPP/Silabus

Di dalam kurikulum mata pelajaran Bahsa Indonesia SD kelas IV semester 2 terdapat 4 Standar Kompetensi dengan 10Kompetensi Dasar. Cakupan materi ajar yang ada di dalam buku paket Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV yang ditulis oleh Umri Nur Aini sudah sesuai dengan materi yang ada di silabus (kurikulum) tersebut. Adapun materi yang terdapat di dalam buku tersebut meliputi kebahasaan (bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna); keterampilan berbahasa (pemahaman dan penggunaan); dan kesusastraan (pantun).

2.3.4  Keterkaitan Materi Ajar Bahasa Indonesia dengan Materi Ajar Bidang Studi yang Lain

Materi ajar yang ada di dalam buku paket Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV yang ditulis oleh Umri Nur Aini memiliki keterkaitan dengan materi ajar bidang studi yang lain. Adapun contohnya adalah sebagai berikut.

Tema 4: pekerjaan berkaitan dengan mata pelajaran IPS dan Pendidikan Agama Islam.Teks bacaan tentang lowongan pekerjaan berkaitan dengan mata pelajaran IPS. Karena di dalam teks tersebut berisi tentang pokok bahasan ilmu ekonomi, sosiologi, geografi, dan sejarah yang semuanya ada di mata pelajaran IPS SD.Teks bacaan pantun nasehat berkaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Karena pantun tersebut berisi perintah untuk menunaikan sholat.Tema 8: budi pekerti berkaitan dengan mata pelajaran PKn dan IPSTeks bacaan pantun nasehat berkaitan dengan mata pelajaran PKn. Karena pantun tersebut berisi perintah untuk saling tolong menolong antar sesama. Dalam tema 8 juga terdapat teks bacaan tentang kejujuran, dimana kejujuran merupakan pokok bahasan mata pelajaran PKn SD.Teks bacaan yang berisi pengumuman pengadaan bakti sosial berkaitan dengan mata pelajaran IPS dan PKn. Karena kegiatan tersebut bentuk dari sosialisasi yang merupakan pokok bahasan ilmu sosiologi yang termasuk dalam mata pelajaran IPS SD.  Bakti sosial  juga merupakan bentuk tenggang rasa, yang merupakan pokok bahasan PKn.Tema 9: informasi berkaitan dengan mata pelajaran Penjasorkes dan PKn,Teks bacaan pantun nasehat berkaitan dengan mata pelajaran penjasorkes. Karena pantun tersebut berisi perintah untuk berolahraga.Teks bacaan yang berjudul “Sesudah suatu Kegagalan” berkaitan dengan mata pelajaran PKn. Karena teks bacaan tersebut memberikan amanat kepada pembaca agar tidak mudah putus asa.Tema 10: lingkungan berkaitan dengan mata pelajaran  PKn.Teks pengumuman mengenai menghadiri rapat berkaitan dengan mata pelajaran PKn. Karena rapat adalah salah satu bentuk dari musyawarah.Tema 11: komunikasi berkaitan dengan mata pelajaran IPS.Teks pengumuman mengenai lomba baca puisi tema kemerdekaan berkaitan dengan mata pelajaran IPS. Karena kemerdekaan adalah salah satu pokok bahasan dalam mata pelajaran IPS.

 

III  SIMPULAN

Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Cakupan materi ajar Bahasa Indonesia SD terdiri dari aspek kebahasaan, keterampilan, dan kesusastran.

   Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa secara terpadu di sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: (a) tema hendaknya tidak terlalu luas; (b) tema harus bermakna; (c) tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa; (d) tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa; (e) tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar; (f) tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat;

(g) tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

   Di dalam kurikulum mata pelajaran Bahsa Indonesia SD kelas IV semester 2 terdapat 4 Standar Kompetensi dengan 10Kompetensi Dasar. Cakupan materi ajar yang ada di dalam buku paket Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV yang ditulis oleh Umri Nur Aini sudah sesuai dengan materi yang ada di silabus (kurikulum) tersebut. Adapun materi yang terdapat di dalam buku tersebut meliputi kebahasaan (bunyi, lafal, intonasi, kata, kalimat, dan makna); keterampilan berbahasa (pemahaman dan penggunaan); dan kesusastraan (pantun). Materi ajar yang ada di dalam buku paket Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV yang ditulis oleh Umri Nur Aini memiliki keterkaitan dengan materi ajar bidang studi yang lain.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

Azmy, Bahauddin. 2012. Bahasa Indonesia SD, (Online). Surabaya: Universitas PGRI Adi Buana. http://www.bahasa Indonesia SD.pdf. (Diakses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 12.10 WIB)

 

Dhono. 2012. Pengertian Drama, (Online), (http://dhono-wareh.blogspot.com/2012/04/pengertian-drama-adalah.html). (Diakses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 12.15 WIB)

 

Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia, (Online)Jakarta: Diksi

http://fikriyogi.wordpress.com/2012/02/22/pengertian-morfem/. (Di akses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 13.00 WIB)

 

Hs. Widjono. 2010. Buku Bahasa Indonesia, (Online).Jakarta:

http://ridwanaz.com/umum/bahasa/pengertian-kalimat-definisi-kalimat/

(Diakses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 13.05)

 

Mulyati, Yeti dan Halimah. 2010. Evaluasi Baahasa Indonesia Pdf, (Online). Jakarta: UPI. http://www.pembelajaranbahasadansastraindonesia.

(Diakses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 13.12)

 

Resmini, Novi. 2008. Pembelajaran Bahasa Indonesia secara Terpadu, (Online). Jakarta: UPI. http://www. Pembelajaran Bahasa Indonesia Secara Terpadu.pdf. (Diakses tanggal 30 Agustus 2012 pukul 13.15)

 

Untuk AnakUsia 7 - 9 Tahun

Untuk AnakUsia 7 - 9 Tahun

High Flyers adalah kursus bahasa Inggris delapan tingkat yang komprehensif untuk anak sekolah dasar, berdasarkan silabus yang berfokus pada kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak akan menikmati kursus yang menyenangkan dengan petualangan karakter animasi yang lucu, dan mereka akan terbawa dalam lingkungan berbahasa Inggris yang alami.



EF High Flyers untuk usia 7 - 9 tahun



Pembuatan Produk High Flyers

Keunggulan Kursus



Persiapan akademis dan tes tingkat lanjutan



High Flyers mencakup 100% materi bahasa Inggris untuk tingkat Sekolah Dasar nasional dan mengajarkan lebih dari 1,200 kosakata serta 140 poin tata bahasa.



Phonics diintegrasikan dengan baik dalam kursus High Flyers, yang merupakan suatu pendekatan untuk mengajarkan hubungan antara penulisan kata dengan pengucapan sehingga pembelajaran kata menjadi lebih mudah.

Lebih lanjut



Bagaimana kami memotivasi para siswa



Untuk menghidupkan suasana, selama di dalam kelas anak-anak diajarkan bahasa Inggris melalui video cerita, nyanyian dan rima berbahasa Inggris untuk memastikan anak-anak belajar dengan baik dan nyaman selama proses belajar berlangsung.



Di EF, kami menyediakan animasi lucu dan cerita bahasa Inggris yang menarik dalam buku pelajaran High Flyers, serta latihan PR yang dirancang secara khusus oleh EF untuk memotivasi anak dalam belajar bahasa Inggris.

Lebih lanjut



Meningkatkan kemampuan para siswa



Keterampilan penting seperti pemikiran logis dan kreativitas diajarkan dalam menggunakan kerangka kerja khusus untuk membantu anak-anak menonjol dalam semua jenis aktivitas sekolah.



Membantu anak-anak untuk menemukan teman baru dan beradaptasi dengan keseharian di sekolah, serta aktivitas di dalam kelas yang beragam diciptakan dengan seksama untuk mengembangkan keterampilan interpersonal, kerjasama dan keterampilan komunikasi.

Lebih lanjut

Pengalaman Belajar di Kelas



Video interaktif & permainan bahasa



Belajar kosakata



Belajar melalui lagu dan permainan

Buku C



Buku D



Buku E



Buku F



Buku G



Buku H



Buku I



Buku J





Hasil pembelajaran



Mendengarkan



Berbicara



Membaca



Menulis



Tata bahasa



Phonics

Temukan

Sekolah Terdekat 
Anda

Lihat Sekolah Kami

KURSUS KAMI

KURSUS LAINNYA

SEKOLAH KAMI

SAYA MAU BELAJAR

CHANGE COUNTRY

EF INDONESIATENTANG EFKANTOR EFLOWONGAN KERJAKEBIJAKAN DATA PRIBADI

© EF Education First 2017. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Ke atas


MATERI BAHASA INGGRIS SEKOLAH DASAR

MATERI BAHASA INGGRIS SEKOLAH DASAR

MATERI BAHASA INGGRIS SEKOLAH DASAR

 

Materi bahasa inggris sekolah dasarharuslah mencakup semua aspek skill bahasa Inggris, mulai dari reading, speaking, listening, dan writing. Hal ini bertujuan agar para siswa sekolah dasar mampu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka secara keseluruhan. Namun semua materi yang disampaikan sebaiknya merupakan materi dasar yang memang dibuat khusus untuk siswa sekolah dasar.

Secara umum materi bahasa Inggris untuk sekolah dasar mungkin sangat mudah dibuat, namun dalam penyampaiannya, justru materi bahasa Inggris sekolah dasar adalah yang paling sulit diimplementasikan. Oleh karena itu para pengajar bahasa Inggris tak hanya dituntut untuk pitar dalam menyusun materi, tapi juga harus jenius dalam menyampaikan materi kepada anak-anak.

Materi bahasa inggris sekolah dasar yang sudah berjalan saat ini memang memang fokus penekanannya kepada penguasaan vocabulary. Hal ini tentunya tidaklah sama sekali salah, akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dalam mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar, yaitu pendekatan pengajaran yang komunikatif.

Dengan cara membiasakan penyampaian materi dengan menggunakan bahasa Inggris dalam setiap kesempatan, meskipun kata-kata tersebut sulit disampaikan secara verbal, tapi Anda bisa menggunakan metode visual ataupun gerak tubuh. Karena penyampaian materi bahasa Inggris yang komunikatif akan mendorong anak untuk menggunakan Bahasa Inggris secara nyata di dalamkelas. Hal ini tentunya akan memberikan pengalaman dan pembelajaran bahasa Inggris, yang memang tujuan utamanya kita dapat menerapkannya untuk tujuan komunikasi.

Cobalah ajak para siswa untuk menuliskan kata favoritnya dalam bahasa Inggris berikut dengan artinya di papan tulis. Kemudian, ajaklah mereka untuk membaca dan menuturkannnya satu persatu sampai benar. Karena kebanyakan anak-anak masih sulit untuk mencerna dan melaflkan tulisan bahasa Inggris.

MATERI PEMBELAJARAN PAI SD/MI

MATERI PEMBELAJARAN PAI SD/MI

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita semua selaku umatnya.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) MI dengan judul Materi Pendidikan Agama Islam di MI”.

Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

Orang tua dan seluruh keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan baik moril mapun materilDosen pembimbing mata kuliah ini Nana Suryana, M.PdDan umumnya kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada penulis selama ini mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin.

Suryalaya,Oktober2011

PENULIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………         i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………        ii

BAB I PENDAHULUAN

LatarBelakang …………………………………………………………………………….RumusanMasalah …………………………………………………………………………TujuanPembahasan ………………………………………………………………..      2MetodologiPenulisan ………………………………………………………………….. 2Sistematika ………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

BAB III KESIMPULAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat danmartabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial.

B.     Rumusan Masalah

Dalam penuluisan makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya sebagai berikut:

C.     Tujuan

Pendidikan Agama Islam di SD/MI bertujuan untuk:

Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitumanusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dansosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.1.      SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematikapenulisan yang digunakanadalahsbb :

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

LatarBelakang,RumusanMasalah,TujuanMetodologiPenulisan,SistematikaPenulisan.

BAB II PEMBAHASAN

Apakah media pembelajaran?Bagaimanapemanfaatandanpenggunaan media pembelajaran di sekolahdasar?Bagaimanaperanan media dalam proses pembelajaran di sekolahdasar?

BAB II

PEMBAHASAN

A.     SK dan KD Fiqih MI yang Dikembangkan

Isi dari standar kompetensi dan kompetensi dasar fiqih MI dikembangkan oleh Departemen Agama dengan mempertimbangkan dan me-review Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam aspek Fiqih untuk SD/MI, serta memperhatikan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006, tanggal 1 Agustus 2006, tentang Pelaksanaan Standar Isi.

Isi dari redaksi SK dan KD fiqih MI yang telah dikembangkan oleh Depag RI berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 2008, untuk kelas I sampai dengan kelas VI, yakni sebagai berikut ini.5

Kelas I, Semester 1

STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengenal lima rukun Islam1.1 Menyebutkan lima rukun Islam

1.2 Menghafalkan syahadatain dan artinya

2. Mengenal tata cara bersuci dari najis2.1 Menjelaskan pengertian bersuci dari najis

2.2 Menjelaskan tata cara bersuci dari najis

2.3 Menirukan tata cara menyucikan najis.

2.4 Membiasakan hidup suci dan bersih

dalam kehidupan sehari-hari

Kelas I, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR3. Mengenal tata cara wuduMenjelaskan tata cara wuduMempraktikkan tata cara wuduMenghafal doa sesudah wudu4. Mengenal tata cara salat fardu4.1 Menyebutkan macam-macam salat Fardu

4.2 Menirukan gerakan salat fardu

4.3 Menghafal bacaan salat fardu

Kelas II, Semester 1STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mempraktikkan salat fardu1.1  Menyebutkan ketentuan tata cara salat fardu

1.2  Mempraktikkan keserasian gerakan dan bacaan salat fardu

2. Mengenal azan dan iqamah2.1 Menyebutkan ketentuan azan dan iqamah

2.2 Melafalkan azan dan iqamah

2.3 Mempraktikkan azan dan iqamah

Kelas II, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR3. Mengenal tata cara salat berjamaah3.1 Menjelaskan ketentuan tata cara salat berjamaah

3.2 Menirukan salat berjamaah

4. Melakukan zikir dan doa4.1 Melafalkan zikir setelah salat fardu

4.2 Melafalkan doa setelah salat fardu

Kelas III, Semester 1STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengenal salat sunah rawatib1.1 Menjelaskan ketentuan salat sunah rawatib

1.2 Mempratikkan tata cara salat rawatib

2. Mengenal salat Jumat2.1 Mengenal ketentuan salat Jumat3. Mengenal tata cara salat bagi orang yang sakit3.1 Menjelaskan tata cara salat bagi orang

yang sakit

3.2 Mendemonstrasikan cara salat dalam keadaan sakit

Kelas III, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengenal puasa Ramadan1.1 Menjelaskan ketentuan puasa Ramadan

1.2 Menyebutkan hikmah puasa Ramadan

2. Mengenal amalan-amalan di

bulan Ramadan

2.1 Menjelaskan ketentuan salat tarawih

2.2 Menjelaskan ketentuan salat witir

2.3 Menjelaskan keutamaan-keutamaan yang ada dalam bulan Ramadan

Kelas IV, Semester 1STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengetahui ketentuan zakat1.1 Menjelaskan macam-macam zakat

1.2 Menjelaskan ketentuan zakat fitrah

1.3 Mempraktekkan tata cara zakat fitrah

2. Mengenal ketentuan infak dan sedekah2.1 Menjelaskan ketentuan infak dan sedekah

2.2 Mempraktikkan tata cara infak dan sedekah

Kelas IV, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR3. Mengenal ketentuan salat Id3.1 Menjelaskan macam-macam salat Id

3.2 Menjelaskan ketentuan salat Id

3.3 Mendemonstrasikan tata cara salat Id

Kelas V, Semester 1STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengenal ketentuan makanan dan

minuman yang halal dan haram.

1.1 Menjelaskan ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram

1.2 Menjelaskan binatang yang halal dan haram dagingnya

1.3 Menjelaskan manfaat makanan dan minuman halal

1.4 Menjelaskan akibat makanan dan minuman haram

Kelas V, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR2. Mengenal ketentuan kurban2.1 Menjelaskan ketentuan kurban

2.2 Mendemonstrasikan tata cara kurban

3. Mengenal tata cara ibadah haji3.1 Menjelaskan tata cara haji

3.2 Mendemonstrasikan tata cara haji

Kelas VI, Semester 1STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR1. Mengenal tata cara mandi

wajib

1.1 Menjelaskan ketentuan mandi wajib setelah haid2. Mengenal ketentuan khitan2.1 Menjelaskan ketentuan khitan

2.2 Menjelaskan hikmah khitan

Kelas VI, Semester 2STANDAR KOMPETENSIKOMPETENSI DASAR3. Mengenal ketentuan jual beli dan pinjam meminjam.3.1 Menjelaskan tata cara jual beli dan pinjam meminjam

3.2 Mempraktikkan tata cara jual beli dan pinjam meminjam

B.     Analisis Materi SK dan KD Fiqih MI 2006 dalam Konteks Pendidikan Islam untuk Anak

Berdasarkan kajian secara mendalam berkaitan dengan isi maupun pengembangan SK dan KD Mata Pelajaran Fiqih untuk madrasah ibtidaiyah (MI) maka dapat ditemukan sedikitnya empat persoalan utama, yakni: pertama; ruang lingkup kajian atau pembatasan kajian fiqih MI; kedua, kedalaman materi fiqih MI; ketiga, sebaran mata pelajaran fiqih MI; dan keempat, yakni strategi implementasi SK-KD mata pelajaran fiqih MI dalam konteks pembelajaran.

C.     Ruang Lingkup Kajian Fiqih MI

Dalam buku Pengantar Ilmu Fiqih, Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy menerangkan bahwa secara garis besar tema pembahasan fiqih meliputi tiga hal, yakni ibadat, mu’amalah, dan ‘uqubat.6 Sementara itu, kalau dicermati SK dan KD fiqih MI hanya mencakup dua fokus perhatian, yakni ruang lingkup fiqih ibadah dan fiqih muamalah. Fiqih ibadah yakni permasalahan fiqih yang mencakup pengenalan dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang benar dan baik, seperti tata cara bersuci, wudhu dan tata caranya, shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Fiqih muamalah yakni permasalahan fiqih yang menyangkut pengenalan dan pemahaman ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, qurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam-meminjam. Jadi, ruang lingkup kajian fiqih di MI adalah baru mencakup dua dari tiga pokok pembahasan dalam materi kajian keilmuan fiqih.

D.    Kedalaman Materi Fiqih MI

Berdasarkan 22 Standar Kompetensi (SK) dan 50 Kompetensi Dasar (KD) di dalam Standar Isi di atas dapat dianalisis bahwa dari SK sejumlah itu secara kuantitatif dapat dilihat bahwa mayoritas, 82 % diantaranya, adalah tergolong fiqih “praktis”. Maksudnya adalah materi fiqih yang diajarkan memprioritaskan fiqih yang dekat terhadap pengalaman nyata siswa dan siap diamalkan dalam keseharian (direct learning) mereka.

Namun, pembahasan tentang ibadah, semisal shalat, seharusnya tidak hanya terbatas pada syarat, rukun, sunnah, dan batalnya saja melainkan juga menyinggung adab dan hikmah yg relevan agar siswa mampu mengenali bahkan mengapresiasi dimensi akhlak (pembinaan moral) & makna fungsional (manfaat) dari ibadah.

Kemudian, materi fiqih juga tidak hanya mencakup hal-hal yang “primer”, melainkan seharusnya mencakup juga hal-hal “sekunder” semisal shalat sunnah dan puasa sunnah. Namun ada hal primer dalam lingkup rukhshah yg belum tercakup seperti tayammum, padahal shalat bagi orang yg sakit (yg masuk kedalam lingkup rukhshah) sudah tercakup dalam pembahasan tersebut.

Sementara itu, dalam perspektif psikologis, jika melihat substansi standar kompetensi dan kompetensi dasar dari SK dan KD untuk kelas III semester 2 dan kelas V semester 2, bisa diamati bahwa substansi materinya nampak tidak tepat untuk anak seusia mereka. Seperti materi puasa yang diberikan kepada anak kelas III semester 2. Dalam standar kompetensi disebutkan yakni: “Mengenal Puasa”, kemudian kompetensi dasarnya adalah pertama, “Menjelaskan ketentuan puasa Ramadhan”, dan kedua, “Menyebutkan hikmah puasa Ramadhan”. Kemudian, SK dan KD kelas V semester 2 juga, yakni “Mengenal tatacara ibadah haji”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan tata cara ibadah haji”, dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara ibadah haji”.

Ketidaktepatan pemberian materi puasa untuk kelas III semester 2 didasari karena adanya kontradiksi antara materi itu dengan realitas karakter perkembangan anak kelas III MI yang rata-rata baru berusia 9 tahun. Perlu diketahui bahwa untuk usia tersebut, karakter perkembangan agama mereka masih bersifat imitative.7 Anak juga baru mampu memahami sebatas dari apa yang bisa dilakukannya. Sebagaimana dikemukakan oleh F.J. Monks, dkk., bahwa anak belum memiliki orientasi mengenai pemisahan subjek-objek, perasaan dan pandangan masih berpusat pada diri sendiri.8Sehingga ketika puasa pada usia itu belum menjadi kwajiban bagi diri mereka maka sebaiknya puasa akan lebih tepat diberikan pada kelas-kelas yang lebih tinggi, di mana anak sudah akil balig, seperti kelas V atau kelas VI. Pada tingkatan anak bisa merasakan berkwajiban puasa.

Kemudian dalam SK dan KD fiqih MI kelas V semester 2 disebutkan bahwa standar kompetensi kedua, yakni: “Mengenal tatacara ibadah haji”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan tata cara ibadah haji”, dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara ibadah haji”. Kompetensi dasar di atas, nampak adanya overlapping yang hampir mirip dengan argumen untuk kritik terhadap materi yang kelas II semester 2 di atas. Pada substansi materi fiqih kelas V semester 2 ini justru nampak sekali bahwa ada upaya untuk menanamkan kognitif dan motorik semata tanpa ada perhatian pembentukan sikap pada sisi afektif. Hal ini dikarenakan, materi Haji ialah ibadah yang sebenarnya dilakukan bagi mereka yang sudah mampu. Dalam konteks di sini anak dibawa memahami suatu materi yang jauh dari konteks konkrit ibadah sebenarnya. Proses direct learning tidak terjadi pada hal ini. F.J. Monks, dkk., mengungkapkan bahwa anak dalam stadium kognitif operasional konkrit (mulai 11 tahun) dapat berpikir operasional dengan catatan bahwa materi berpikirnya ada secara konkrit.9 Dengan demikian, fiqih MI sebaiknya menyajikan materi-materi yang secara realitas itu konkrit dapat dirasakan secara inderawi dan dapat dialami oleh peserta didik. Mel Silberman bahkan mengatakan kalau belajar yang sesungguhnya tiadak akan terjadi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi , membuat pertanyaan, mempraktikkan bahkan mengajarkan pada orang lain.10 Sehingga kunci keberhasilan pembelajaran fiqih MI juga sangat ditentutakan oleh materi yang dipilihnya.

Sedangkan standar kompetensi untuk fiqih MI kelas III semester 2 yang nomor dua yakni “Mengenal amalan-amalan di bulan Ramadhan”. Substansi materi pada standar kompetensi maupun di kompetensi dasar sebagai penjabarannya tersebut, sudah bisa dinilai tepat untuk usia anak kelas III. Kemudian juga untuk fiqih MI kelas V smester 2 standar kompentensi pertama, yakni, “Mengenal ketentuan ibadah Qurban”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan ketentuan Qurban,” dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara Qurban”. Opini ini didasarkan pada sebuah argumen bahwa amalan-amalan bulan Ramadhan, begitu pula perayaan Qurban, pada dasarnya merupakan amalan umum, semua anak pasti dan pernah mengikutinya, baik karena ajakan orang tua, tetangga, saudara, atau niat pribadi. Sebuah amalan yang sepertinya pada masa kekinian telah menjadi seperti tradisi. Maka materi ini tepat bagi anak MI kelas V berkaitan juga dengan salah satu sifat yang penting dari perkembangan berpikir operasional konkrit, yakni sifat deduktif-hipotetis. F.J. Monks menjelaskannya; “Suatu kecenderungan anak yang berpikir operasional konkrit jika harus menyelesaikan suatu masalah maka ia langsung memasuki wilayahnya. Anak mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan hanya melihat akibat langsung usah-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu.”.11 Jadi meng-exsplore pengetahuan anak dengan menstimuli melalui materi yang relevan dengan konteks realitas yang ada pada dasarnya akan mengefektifkan proses pembelajaran fiqih itu sendiri.

Sementara beberapa contoh dari kompetensi dasar di atas, yakni seperti, “(12.1) Menjelaskan ketentuan puasa, (12.2) Menyebutkan hikmah puasa, (13.1) Menjelaskan ketentuan shalat tarawih dan witir, (13.2) Melaksanakan tadarus, (18.1) Menjelaskan ketentuan Qurban, (18.2) Mendemonstrasikan tata cara Qurban, (19.1) Menjelaskan tatacara haji, (19.2) Mendemonstrasikan tatacara haji.” Penyusunan urutan kompetensi dasar per standar kompetensi dasar di atas yang dimulai dari penjelasan secara verbal, kemudian baru ranah praktisnya adalah selaras dengan karakter dasar dari perkembangan agama anak yang masih bersifat, verbalized and ritualistic.12Suatu karakter keagamaan yang ditunjukkan pada anak yang mula-mula tumbuh secara verbal atau ucapan. Kemudian, anak menghafal bacaan-bacaan tersebut, kemudian melakukannya dan membiasakannya. Jadi, dari segi sequence tujuan pembelajarannya, SK dan KD fiqih MI dalam sampel di atas adalah relevan dan tepat.

E.     Sebaran SK dan KD Fiqih MI

Sebaran kompetensi mata pelajaran fiqih nampak belum begitu sekuensial, misalnya untuk kompetensi kelas IV semester 2 (antara zakat fitrah dan sadaqah/infaq bisa disatukan), kompetensi memahami makanan-minuman dan daging hewan yang halal dan haram untuk kelas V semester 1, khitan dan mandi wajib untuk kelas V semester 2, sedangkan kelas VI bisa difokuskan pada mu’amalah.

Kompetensi mata pelajaran fiqih nampak hanya berkaitan dengan ranah kognisi dan psikomotor, sedang ranah afeksi masih kurang tersentuh. Jika dalam mata pelajaran akidah-akhlak terdapat kompetensi semisal: “menghayati, terbiasa/membiasakan, mencintai” yg termasuk ranah afeksi, maka sangatlah mungkin dalam mata pelajaran fiqih dimasukkan kompetensi afektif.

F.      Pengembangan SK dan KD Fiqih MI

Pengembangan SK dan KD fiqih MI adalah merupakan kwajiban bagi para pengelola madrasah ibtidaiyah, khususnya para guru di MI. Karena, guru-lah pihak yang paling berperan dalam proses pembelajaran di kelas. Maka berhasil dan tidaknya suatu proses pembelajaran fiqih memang lebih dominant tergantung dari kompetensi dan profesionalisme guru dalam mengembangkan SK dan KD fiqih MI yang telah disusun oleh Pemerintah. Harapan ini juga merupakan kelonggaran yang diberikan Pemerintah dalam memberikan kesempatan kepada Satuan Pendidikan untuk mengembangkan pendidikan semaksimal mungkin sesuai dengan karakter dan ciri khas masing-masing.

Upaya pengembangan SK dan KD Fiqih MI pada dasarnya juga harus melihat substansi dari mata pelajaran fiqih itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan di muka, pokok pembahasan fiqih MI adalah meliputi dua hal yakni fiqih ibadah dan fiqih mu’amalah. Materi fiqih memiliki karakter pelajaran yang mengandung tiga ranah tujuan pembelajaran yakni; kognitif, afektif, dan psiko-motorik.

Kawasan kognitif yakni kawasan yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan afektif yakni satu domain yang berkaitan dengfan sikap, nilai-nilai interes, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan social. Dan kawasan psikomotorik, yakni; domain yang mencakup tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik.

Dalam pengembangan SK dan KD fiqih MI, ada beberapa persoalan penting yang perlu dikembangkan, yakni materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi pembelajarannya. Pertama, materi fiqih yang relevan untuk dikembangkan bagi level madrasah ibtidaiyah, yakni seharusnya berkaitan dengan level-level dasar-dasar dari pembahasan fiqih, baik yang ibadah maupun muamalah. Adapun persoalan puasa, shalat, tadarus, Qurban, dan haji adalah termasuk dalam kajian ibadah. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddiqie, sekumpulan hokum-hukum yang dinamai ibadah yakni thaharah, shalat, janazah, shiyam, zakat, zakat fitrah, hajji, jihad, nadzar, qurban, dzabihah, shaid, aqiqah, dan makanan serta minuman.1

Materi-materi fiqih MI pada dasarnya adalah merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada peserta didik yang masih level anak-anak. Pesan menurut Dr. Hamzah B. Uno, M. Pd, merupakan informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat berupa ide, fakta, makna, dan data.15 Unsur-unsur pesan meliputi, origin, mode, phisycal character, organization, dan novelty. Namun dalam program pendidikan yang bersifat pembelajaran (instruktional) tidak semua unsure dapat digunakan, dan apabila akan memasukkan unsure-unsur tersebut kemasannya harus indah untuk didengar dan tidak vulgar.

Materi sebaiknya dipilih yang konkrit dan bisa menimbulkan direct learning pada peserta didik. Karena anak-anak madrasah ibtidaiyah masih dalam level operasional konkrit. Maka penjelasan-penjelasan mengenai puasa, amalan bulan Ramadhan, qurban, dan haji, semaksimal mungkin ditampilkan secara riil dihadapan peserta didik. Di era kemajuan dan perkembangan iptek yang begitu pesat, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit.

Kedua, yakni pengembangan SK dan KD materi fiqih MI pada wilayah kegiatan pembelajarannya. Strategi pembelajaran fiqih untuk anak madrasah ibtidaiyah harus memperhatikan berbagai faktor yang terkait, terutaman materi dan karakteristik perkembangan peserta didik. Di mana desain pembelajaran juga merupakan faktor lain yang penting di dalamnya. Desain pembelajaran merupakan tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam desain pembelajaran meliputi siswa, tujuan, metode dan evaluasi.

Penerapan Paikem (Pembelajaran Aktif, Islam, Kreatif, Entertaint, dan Menarik) dalam pembelajaran fiqih di MI. Misal, mengajak atau menugasi siswa ke pusat perbelanjaan atau pasar untuk mengenali atau mengidentifikasi secara “induktif” realitas jual-beli yang ada: tata caranya, jenis yang halal dan haram, sehingga tidak sekedar based on text. Ini sangat sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi siswa yg memang berada dalam tingkat operasional konkret.

Metode pembelajaran fiqih untuk anak madrasah ibtidaiyah ditentukan berdasarkan karakteristik pertumbuhan fisik dan perkembangan kejiwaan anak MI serta perkembangan karakteristik keberagamaannya. Ketika pendidik telah mampu memahami pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak, pendidik dapat berkreasi untuk menciptakan metode sesuai dengan kebutuhan, mitvasi dan kondisi anak.

Bermain

Bermain merupakan metode alamiah yang memberikan suatu kepraktisan kepada anak dalam berbagai kegiatan yang akan menjadi kenyataan dalam kehidupan berikutnya. Melalui bermain anak belajar bagaimana menggunakan alat-alat, bagaimana cara melakukan suatu ritual haji, ritual qurban, dan sebagainya, serta bagaimana cara bekerjasama dengan anak lainnya. Bahkan, Johann Amos Comenius mengungkapkan pendapatnya mengenai permainan pada anak-anak yakni bahwa permainan dan hiburan akan menumbuhkan semangat bagi diri anak yang keikutsertaannya merupakan media untuk perkembangan akal, sopan-santun dan kebiasaan anak.

Tipologi permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran fiqih MI yakni seperti permainan fungsi atau gerak, permainan ilusi dan permainan menerima atau reseptif. Permainan fungsi atau gerak ini adalah permainan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan seperti untuk ritual haji, sedangkan permainan ilusi adalah permainan yang berbuat seolah-olah sungguhan dalam fantasi anak seperti untuk haji dan puasa, dan permainan menerima yakni permainan yang bersifat menerima, bagi anak mereka hanya diam saja tanpa melakukan gerak. Contohnya yakni mendengarkan cerita.

Bercerita

Daya fantasi pada diri anak bersumber dari keinginan akan keberanian akan kebebasan, juga merupakan kelanjutan anak dari keinginan dan kebutuhan. Daya fantasi anak luas, kuat, aktif dan tanpa batas. Dantasi seperti itu menjadi jalan atau ekspresi dalam permainan, dalam dongeng dan menggambar. Dasar pertimbangan untuk menggunakan metode bercerita dalam kegiatan pembelajaran fiqih di MI yakni anak memiliki sifat anthromorph, egocentris, imitative, wondering dalam perkembangan rasa agamanya.

Pembiasaan

Metode pembiasaan ini mengindikasikan adanya keharusan meberikan arahan perilaku tertentu yang dipelajari oleh anak agar dapat berperilaku dengan tepat. Oleh karenanya, metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan kedisiplinan.

Pembiasaan dalam perilaku sehari-hari akan mempengaruhi sifat imitative anak, sehingga dapat berpengaruh bagi perkembangan moral dan kemampuan kognitif. Pembiasaan melalui kedisiplinan atau belajar di bawah bimbingan akan merangsang anak untuk berekreasi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitakn emosi yang menyenangkan dan dicegah untuk tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan, yaitu dengan cara mengendalikan lingkungan.

Ketiga, yakni pengembangan SK dan KD fiqih MI dalam konteks penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat bantu untuk melaksanakan proses pembelajaran. Tujuan penggunaannya yakni untuk mempertinggi kualitas proses pembelajaran fiqih yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa. Berdasarkan criteria untuk menetapkan media yang tepat dalam proses pembelajaran , yang meliputi, ketepatannya dengan tujuan pengajaran, dukungan terhadap isi bahan pelajaran, kemudiahan memperoleh media, ketrampilan guru dalam penggunaannya, tersedianya waktu untuk menggunakannya, dan kesesuaian dengan taraf berpikir siswa, maka beberapa media yang dirasa tepat untuk pembelajarn fiqih MI dalam hal ini seperti materi puasa, amalan-amalan bulan Ramadhan, qurban, dan haji, yakni; poster, media audio-video, boneka, dan benda-benda nyata.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan materi di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut:

      1.            Pada dasarnya isi SK dan KD materi fiqih di madrasah ibtidaiyah adalah seperti acuan yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 dan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 namun telah di-review dan dikembanagkan oleh Departemen Agama. Namun secara substansial isinya tidak ada perbedaan.      2.            Beberapa bagian dari SK dan KD fiqih MI berdasarkan beberapa analisis menurut perspektif psikologis maupun pedagogis ada nuansa tidak pada tempatnya. Maksudnya adalah SK dan KD menganung materi yang bertentangan dengan realitas kebutuhan dan karakteristik perkembangan kejiawaan peserta didik.      3.            Pengembangan SK dan KD fiqih MI pada dasarnya dikembangkan kepada indicator pencapaian hasil belajar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran sampai kepada evaluasi pembelajaran yang didasarkan kepada pertimbangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis peserta didik di Madrasah IBtidaiyah yang masih taraf anak-anak.

DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 1, Terjemahan: Med. Meitasari Tjandrasa, Muslichah Zarkasih, Jakarta: Erlangga, 1978.

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

F.J. Monks, dkk., Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998.

., Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004, Cet. XV.

Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, cet. III.

Martinis Yamin, Desain Pembelajaran Berbasis Tinfkat Satuan Pendidikan, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.

Mel Silberman, Active Learning , diteremahkan : Sarjuli, dkk, Yogyakarta: Yappendis, 2005, cet. III.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005, cet. VI.

Rahmat, “Memanfaatkan Permainan Bagi Pendidikan Emosional:”, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 4. No. 2, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2003.

Siti Sa’idah, “Metode Pendidikan Bagi Pengembangan Rasa Agama Pada Anak Usia Awal”, Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. II. No. 2, Yogyakarta: Jurusan PAI, Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2005.

Standar Isi Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Madrasah, Depag RI, 2006.

Standar Nasional Pendidikan, Bandung: Fokus Media, 2005.


KTK

Prakarya untuk SD dari Kertas Bekas : Ikan Penghias Kelas

Prakarya dari Kertas Bekas: Membuat Ikan 

Masih suka menyimpan kertas bekas kan? Bagus. Karena kertas itu dibuat dari pohon, jadi kalau kita berusaha memanfaatkan kertas bekas berarti kita juga menyelamatkan pepohonan. Dan, tentu saja ikut menyelematkan lingkungan. Nah, kreasi kertas bekas kali ini adalah ikan untuk penghias kelas. Bahan dekoratif ini bisa di tempel di dinding atau bisa juga digantung. Lihatkan kerajinan tangan di bawah? Bagus? Tertarik untuk mencoba membuat prakarya yang satu ini? Ayo baca terus tutorialnya sampai selesai ya.
  
hiasan ikan dari kertas bekas, mudah dibuat

Cara Membuat Hiasan dari Kertas Bekas: Ikan Warna-Warni 

Nah, sekarang kita akan pelajari cara membuat ikan seperti gambar di atas. Perhatikan gambarnya dan baca petunjuknya.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat ikan penghias (dekoratif) ini adalah:
kertas bekas warna-warni (boleh pakai kertas bekas jenis apa saja, tetapi bagusnya sih yang agak kaku). Saya menggunakan kertas bekas potongan sampul makalah atau construction paper.lem kertasguntingpensil atau pulpenmistarspidol hitam

Langkah-Langkah / Cara Membuat

Berikut langkah-langkahnya:
Potong kertas berbentuk pita ukurannya terserah kamu. (Saya menggunakan ukuran lebar 2 cm dan panjang 32 cm kurang lebih).Untuk setiap ekor ikan kita akan membutuhkan 6 buah pita kertas bekas dan saya menggunakan 2 variasi warna. Kamu bisa bereksperimen dengan warna-warna dan susunannya. Pada contoh ini saya menggunakan 3 pita kertas bekas warna kuning dan 3 pita kertas bekas warna merah. Kombinasi yang bagus mungkin.Gunakan pensil / pulpen dan mistar untk membuat garis, lalu gunakan gunting untuk memotong pita kertas sesuai yang diinginkan.
siapkan 6 helai pita kertas dengan 2 warna berbeda.lipat menjadi 2 semua (6 helai) kertas. Perhatikan gambar berikut.melipat kertas menjadi 2 bagian sama panjangJadinya seperti ini nih. Nah, selanjutnya kita akan menganyamnya. Jangan khawatir, mudah kok.ke-6 pita kertas dilipat dua sama panjangKita akan mulai menganyamSilangkan 2 helai kertas pertama, kertas kuning dan merah. Perhatikan gambar.kaitkan 2 pita berbeda warna untuk mulai menganyamTambahkan lagi 1 pita kertas. Saya dahulukan yang warna merah. Menganyamnya mudah karena hanya bentuk anyaman bersilang. Perhatikan gambarnya baik-baik ya.pita kertas warna merah kedua ditambahkanTambahkan lagi satu kertas merah. Kali ini posisinya sama dengan kertas merah yang pertama.kertas warna merah ketiga ditambahkanSisipkan pita warna kuning yang ke-2. Ingat berselang seling susunannya. Bolak-balik anyaman untuk meyakinkan bahwa pada kedua sisi kamu telah menempatkan pita kertas dengan benar. Susunannya harus seperti papan catur agar saling mengikat dan erat.menyisipkan pita kertas warna kuning ke-2, lihat susunannya harus seperti papan caturTerakhir, pada proses menganyam, tambahkan pita kuning ke-3 (terakhir) pada anyaman. Balikkan anyaman untuk meyakinkan bahwa bagian belakang anyaman juga mempunyai pola anyaman papan catur yang berselang-seling.menyisipkan kertas kuning yang terakhirPerhatikan pita kuning yang kedua. Saya memotongnya dengan gunting persis di bagian sisi anyaman. Kita hanya memotong satu helai sementara satu helai yang lain pada pita kuning kedua dibiarkan.potong ujung atas pita kuning kedua persis pada sisi anyamanUpppssss.... maaf, heheheee... foto ini harusnya ada di atas.menggunting ujung pita kuning ke-2 pada bagian atas anyamanBerikutnya, lipat ujung pita kuning ke-2 yang ada di bagian bawah ke arah atas. Perhatikan gambar berikut.melipat ke atas ujung bawah pita kuning ke-2Sisipkan ujung pita kuning ke-2 (pita bawah) ini ke dalam anyaman seperti gambar berikut sehingga anyaman kertas warna-warni kita akan terkunci rapat dan kuatmenyisipkan ujung pita kuning ke-2Rapikan anyaman. Hasilnya akan seperti gambar di bawah ini.rapikan lipatan dan sisipan pita merahSekarang kita akan mengerjakan kuncian anyaman untuk pita merah. Kita juga akan mengerjakannya pada pita merah ke-2. Perhatikan gambar untuk memposisikan anyaman seperti gambar berikut.posisikan anyaman seperti ini di hadapanmu untuk mengunci pita kertas merahSeperti langkah sebelumnya pada penguncian pita kertas warna kuning ke-2, lakukan hal yang sama pada pita kertas merah ke-2.Pertama-tama, potong ujung pita kertas merah ke-2 pada sisi atas, dan sisipkan ujung pita merah ke-2 bawah menuju ke atas, masuk di bawah anyaman pita kuning. Perhatikan gambarnya ya.mengunci pita merah ke-2Aplikasikan lem pada bagian sisi anyaman yang belum terkunci yaitu pada ujung pita-pita 1 dan ujung-ujung pita 3 di antara anyaman.Posisikan kertas seperti gambar di bawah. Kita akan membentuk sirip ikannya sekarang. Beri garis lengkung dengan menggunakan puplen atau pensil seperti foto. Bayangkan bahwa kita akan memotong membentuk sirip punggung-perut, dan sirip ekor ikan.memberi garis lengkung pada calon sirip ikanLakukan pengguntingan sesuai garis lengkung yang telah dibuat padaujung pita kertas. Lihat gambar berikut.proses pengguntingan siripJadinya akan seperti ini. Sudah kelihatan bentuk ikannya bukan?hasil pengguntingan sirip ikanTerakhir adalah menambahkan mata pada kedua sisi ikan.Gunting kertas berbentuk bulatan kecil. Bila kamu punya, kamu juga dapat menambahkan mata tempel untuk boneka yang dijual di toko-toko bahan kerajinan.membuat mata ikan dari kertas yang digunting bulatTempelkan bulatan mata pada tempat yang sesuai (pada ujung anyaman depan agak ke atas sedikit) lalu beri titik hitam dengan menggunakan spidol.ikan hias dari kertas bekasNah. Itu dia, ikannya sudah jadi. Buat beberapa ekor ya.Demikian cara memanfaatkan kertas bekas berwarna untuk prakarya atau kerajinan tangan sederhana berbentuk ikan hias yang lucu. Cocok sekali untuk penghias kelasmu atau kamarmu. Dapat digantung atau dapat juga di tempelkan di tembok.

Kamu Juga Dapat Membuat Prakarya (Kerajinan Tangan) ini untuk Berkreasi: 
Jadwal Pelajaran dari Kertas Bekas yang Unik
Roket dari Kertas Bekas
Hiasan Dinding Unik dari Kertas Bekas
Hiasan Unik dari Botol Bekas. Prakarya Kreatif!

Nove Hasanah 

Share