Minggu, 28 Januari 2018
Selasa, 09 Januari 2018
Parafrase
Pengertian, Cara Membuat, Contoh Parafrasa, dan Jenis-jenis Parafrasa
Pengertian Parafrasa
Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian. Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.
Cara Membuat Parafrasa
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan. Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri. Sunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.
Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa
Bagaiamana cara memparafrasekan puisi menjadi prosa? Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah :
Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama ;Pahami isi kandungan puisi secara utuh ;Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi ;Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri ;Sampaikan secara lisan atau dibacakan.
Parafrasa merupakan cara pengungkapan kembali suatu tuturan dari suatu tingkatan/ macam bahasa menjadi yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
Ciri Parafrasa:
1. bentuk tuturan berbeda
2. makna tuturan sama
3. subtansi tidak berubah
4. bahasa/cara penyampaian berbeda
Berdasarkan jeisnya, parafrasa dibagi menjadi dua; parafrasa lisan dan parafrasa tulisan.
Langkah membuat parafrasa:
1. membaca teks keseluruhan
2. menentukan pokok-pokok pikiran wacana
3. menetuka tuturan yang hendak menjadi variasinya
4. menyusun pokok pikiran tanpa mengabah arti
5. menyempurnakan pokok pikiran
6. membentuk wacana sesuai keinginan
Contoh 1
Selamat Tinggal
aku berkaca
ini muka penuh luka
siapa punya?
kudengar seru menderu
dalam hatiku
apa hanya angin lalu?
lagu lain pula
mmenggelepar di tengah malam buta
ah...!!!
segala menebal, segala mengental
segala tak kukenal
(Chairil Anwar)
parafrasanya menjadi:
Ketika si ku berkaca, aku sangat terkejut melihat mukaku ini mulai dipenuhi luka. Sebenanya ini punya siapa?
Aku mendengar suara yang seru menderu, dalam hati kubertanya, apakah itu hanya suara angin lalu?
Aku pun mendengar lagu yang lain menggema menggelepar di tengan malam buta.
Ah,...!!
Segalnaya telah tiba menebal, bahkan segalanya jadi mengental, sehingga segalanya tidak aku kenal.
Contoh 2
Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Bila peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Lukadan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar, DCD 1959:7)
Parafrasanya :
Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.
Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya. Ia merdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya. Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.
Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.
Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi. Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)
Jenis parafrasa ada 2 yaitu:
1. Parafrasa terikat adalah mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan atau menyisipkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrasa tersebut.
2. Parafrasa bebas adalah mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan.
Parafrasa Terikat
MENYESAL
Kini PAGIKU HILANG SUDAH MELAYANG entah kemana
Sekarang HARI MUDAKU SUDAH PERGI jauh tak kan pernah kembali
KINI hanya PETANG yang DATANG MEMBAYANGi alam pikiranku
Yang kini BATANG USIAKU SUDAHmulai TINGGI.
Dulu AKU LALAI DI HARI PAGI,
Karena BETA LENGAH DI MASA MUDA yang masih suka bermalas-malasan
Hingga KINI HIDUP menjadiMERACUN HATI tak bisa berbuat apa-apa lagi
Sudah MISKIN ILMU, MISKIN HARTApula
Namun AH, APA GUNA KUSESALKAN,
Karena MENYESAL TUA itu TIADA BERGUNA,
HANYA MENAMBAH LUKA SUKMA di hati
KEPADA YANG MUDA KUHARAPKAN,
Untuk ATUR BARISAN DI HARI PAGI,
MENUJU KEARAH PADANG BAKTI.
(ALY HASJMY)
Parafrasa Bebas
Puisi meyesal karya Ali Hasjmi mengisahkan seseorang yang menyesali masa mudanya tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.Ia kurang hati-hati dan bermalas-malasan waktu muda dulu.Kini di hari tuanya, ia merasa miskin ilmu dan miskin harta, tidak berilmu dan tidak punya harta apa-apa. Ia merasa tidak ada guna menyesali diri. Akan tetapi, ia tidak berhenti dalam sesalnya.Ia berusaha bangkit dan mengajak generasi muda untuk merencanakan segala sesuatu dari sekarang menuju kearah tempat yang lebih baik (tempat yang dihormati).
Contoh puisi
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katerdal
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiw begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda
(Toto Sudarto Bachtiar, suara, 1950 )
A. Mencari Arti kata sulit
Kekal : abadi
Duka :sedih
Tengadah : melihat keatas/ berdoa/ minta
Merah jambu: sore hari
Melulur : meluncur masuk dengan mudah
Sosok : rupa/ bentuk/ wujud
Angan-angan: pikiran/ ingatan/ cita-cita
Kemayaan: hal keadaan hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada hanya ada dalam angan-angan atau khayalan.
Menara : bangunan yang tinggi
Katerdal : gereja besar tempat kedudukan resmi
B. Parafrasa terikat
Setiap kita bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil aku merasa iba padanya
Setiap Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka dalam menghadapi kenyataan hidup
Mereka Tengadah padaku pada bulan merah jambu saat itu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwakalau gadis kecil berkaleng kecil tidak ada
Rasanya Ingin aku ikut dengangadis kecil berkaleng kecil itu
Mereka Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok tanpa rasa takut
Mereka Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapanyang tak kan pernah ada
Hanya Gembira dari kemayaan riang.
Namun Duniamu yang lebih tinggi dari menara katerdal
Meskipun Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwamu begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil dunia ini terasa sepi
Bagaikan Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan di kotaku, oh kotaku
Seperti Hidupnya tak lagi punya tanda
C. Parafrasa bebas
Puisi Gadis kecil berkaleng kecil diatas pengungkapan seorang penyair bahwa Setiap kita bertemu dengan gadis kecil yang membawa kaleng kecil, senyuman mereka terlalu abadi untuk kita kenal, penyair merasa terharu dan sedih jika melihat mereka saat meminta minta pada kita saat waktu sore hari itu, namun jika tidak ada mereka kota ini terasa hilang tanpa jiwa. Ingin rasanya ikut dengan gadis kecil berkaleng kecil itu, sampai pulang ke bawah jembatan, tubuh mereka meluncur masuk dengan mudah tanpa rasa takut ataupun kesusahan. Mereka hanya bisa berkhayal dari kehidupan yang mewah dengan kegembiraan yang hanya khayalan yang nyatanya tidak ada. Namun mereka derajatnya lebih tinggi dari bangunan yang tinggi. Meskipun mereka selalu berlintas lintas di air kotor yang begitu mereka hafal, jiwa mereka tetap suci dan terlalu suci untuk dapat membagi duka kita. Kalau mereka mati, bagaikan bulan diatas tak ada yang punya, dan kota kita menjadi sepi tanpa kehadiran mereka seperti tiada kehidupan yang berarti.
Contoh Memparafrasakan puisi
Doa
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
A. Mencari Arti kata yang sulit
Termangu : diam
Cayamu : sinar atau cahaya
Suci : bersih
Kerdip : sebentar kelihatan padam, sebentar menyala lagi
Kelam : agak gelap atau kurang terang
Sunyi : sepi
Bentuk : sosok, wujud
Remuk : hancur
Kerdip lilin di dalam kelam sunyi : sesuatu sangat berarti
Aku mengembara di negeri asing : pengakuan penyair akan dosa-dosanya, sehingga ia menjadi ”orang asing” bagi dirinya sendiri.
DipintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling : mengungkapkan tekad bulat penyair yang menyadari bahwa jalan Tuhanlah yang menjadi pilihannya. Ia tidak akan berpaling lagi, apapun yang terjadi.
B. Menyisipkan kata pada puisi
Doa
Tuhanku aku mohon ampunanMu
diDalam aku termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biarpun susah sungguh menghadapikenyataan hidup
Aku tetap Mengingat kau penuh seluruh
Dengan cayaMu panas suci
meskipun tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Engkau sangatlah berarti
Tuhanku yang Maha Esa
Aku seperti hilang bentuk
Terasa Remuk tubuhku
Tuhanku Yang Maha Kuasa
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku Yang Maha Pengampun
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling apapun yang terjadi
C. Parafrasa bebas
Puisi diatas mengisahkan seseorang yang sedang termangu, ia tetap menyebut nama Tuhannya, Ia mengingat atas kesalahan dan dosa-dosa yang ia perbuat . Dia berusaha selalu ingat padaNya meskipun susah karena memikirkan urusan dunia.Ia sadar atas kebesaran Tuhan yang penuh cahaya suci, meskipun tinggal kerdip lilin baginya sangatlah berarti.Ia merasa seperti tubuhnya hancur penuh dengan dosa. Ia merasa asing bagi dirinya, Ia bertekad bulat bahwa jalan yang Tuhanlah yang menjadi pilihannya, ia tidak akan berpaling lagi, apa pun yang terjadi
Jenis-jenis Kalimat
Manusia memiliki kodrat sebagai makhluk sosial, sehingga komunikasi dengan sesama manusia pasti tidak terhindarkan setiap harinya. Salah satu media komunikasi antar perorangan adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia mampu menyampaikan pesan, gagasan, kehendak, informasi ke manusia lainnya. Bahasa memiliki berbagai satuan yang menyusunnya. Satuan bahasa terkecil dalam bahasa yang memiliki makna secara utuh adalah kalimat, namun beberapa sumber juga menyebutkan jika bagian terkecil dari bahasa adalah kata atau fasa (kumpulan kata) karena kata dan frasa juga memiliki makna meski tidak utuh. Artikel kali ini akan dibahas mulai dari pengertian kalimat, seluk beluk kalimat, jenis jenis kalimat dan contohnya.
Pengertian Kalimat
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kalimat merupakan satuan terkecil bahasa yang mengungkapkan pikiran secara utuh secara kebahasaan, definisi tersebut diambil dari Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Untuk memaknainya secara tepat, ketika mengucapkan suatu kalimat digunakan suara yang naik – turun, lemah – lembut, disela dengan jeda, serta intonasi di akhir kalimat. Sedang untuk memaknai kalimat tertulis, digunakan tanda baca yang mewakili cara pengucapan atau intonasi.
Para ahli juga mengemukakan pendapatnya tentang definisi dari kalimat, salah satunya Kridalaksana. Kridalaksana mengungkapkan jika kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunya pola intinasi final, serta secara actual dan potensial terdiri dari klausa. Selanjutnya, Hal senada juga dikemukakan oleh kokt Cook, Cook mendefinisikan sebagai suatu satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri sendiri – sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan terdir dari klausa. Sumber lain menyebutkan jika kalimat merupakan gabungan dari dua kata atau lebih yang menghasilkan sebuah pengertian dan pola intonasi akhir.
Unsur – Unsur Kalimat
Kalimat memiliki unsur unsur yang membangunnya, secara luas kita mengenal konstituen dasar pembentuk kalimat yang meliputi kata; frasa; dan klausa. Kata merupakan satuan terkecil dalam kalimat secara gramatikal. Kata dapat berdiri sendiri, maupun bergabung dengan kata – kata lain membangun struktur kalimat. Kridalakana mengungkapkan jika kata terjadi dari morfem tunggal, seperti makan, jalan, Tuhan, pergi, kembali, buah, dan lain sebagainya.
Pembentuk kalimat lain adalah frasa. Frasa sering didefinisikan sebagai kumpulan dua kata atau lebih yang tidak berciri klausa, atau tidak memiliki ciri predikat di dalamnya. Seperti halnya dengan kata, frasa juga dapat berdiri sendiri dengan kondisi sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan. Misal
Konstituen dasar pembentuk kalimat yang selanjutnya adalah klausa. Menurut Cook, klausa merupakan kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Selain itu, Dola mendefinisikan klausa sebagai satuan gramatikal yang disusun oleh kata atau frasa yang sedikitnya minimal satu predikat. Pengertian lain menjelaskan jika kalimat merupakan kumpulan kata yang memiliki sekurang – kurangnya memiliki satu subjek dan predikat.
Contoh pembentukan kalimat :
Ayam (kata)
Ayam goreng (frasa)
Saya makan ayam goreng (kalimat)
Sebelumnya beberapa kali disebutkan istilah ‘subjek’ dan ‘predikat’. Subjek dan predikat merupakan beberapa unsur dari suatu kalimat, bila menilik lebih dalam unsur – unsur lain penyusun kalimat yang lain adalah objek dan keterangan. Agar lebih memahami apa sajakan unsur – unsur yang terdapat dalam suatu kalimat, berikut penjelasannya,
Subjek
Subjek merupakan bagian yang menunjukkan pelaku atau masalah dari suatu kalimat. Subjek pada umumnya berupa kata benda maupun frasa yang merujuk pada benda. Selain itu subjek dapat merupakan kata atau nama yang merujuk pada seseorang maupun kelompok, misal ‘aku’, ‘dia’, ‘mereka’, ‘Diana’, dan lain – lain. Selain itu, subjek akan menjawab pertanyaan tentang : ‘apa’ dan ‘siapa’.
Contoh :
Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat tahun ini.
(menjawab, “Siapa presiden terpilih Amerika Serikat tahun ini?”)
Sebuah bus AKDP menabrak dua motor di depannya.
(menjawab. “Apa yan menabrak dua motor tadi”)
Saipah yang melakukan aksi pencurian tadi pagi, tidak lain mantan satpam di rumah itu sendiri.
(menjawab, “Siapa yang melakukan aksi pencurian tadi pagi?”)
Predikat
Predikat merupakaan bagian dasri suatu kalimat yang menyatakan suatu tindakan atau keadaan dari subjek yang dapat berupa kata maupun frasa. Predikat digunakan untuk menjawab pertanyaan: mengapa dan bagaimana.
Contoh :
Ayah sakit
(menjawab, “Ayah mengapa tidak masuk kerja?” atau “Bagaimana keadaan ayahmu?”)
Diana tidak keluar kamar seharian
(menjawab, “Bagaimana keadaannya setelah mendengar kabar itu?”)
Objek
Dalam kalimat, objek merupakan bagian yang melengkapi predikat, biasanya berupa nomina, frasa, maupun klausa. Suatu objek dapat berubah kedudukannya menjadi suatu subjek, jika kalimat tersebut dirubah dari kalimat aktif menjadi kalimat pasif.
Contoh :
Franky menendang bola
(Franky : subjek; bola : objek)
Bola ditendang Franky
(Franky : objek; bola : subjek. “Bola” berdiri sebagai subjek karena jika kata “Franky” dihilangkan, maka “Bola ditendang” masih dapat berdiri sebagai kalimat dan memenuhi syarat adanya subjek dan predikat)
Keterangan
Keterangan merupakan bagian kalimat yang menemberikan penjelasan lebih tentang subjek dan predikat dalam suatu kalimat, dalam menambahkan unsur keterangan maka akan disertai konjungsi atau kata hubung. Keterangan dapat berupa keterangan alat, waktu, tujuan, cara, penyertan, penyebab, saling, dan sebagainya.
Contoh :
Ani pergi ke pasar dengan sepeda.
(Sepeda : keterangan alat; dengan : konjungsi)
Ria meninggalkan tasnya di mushola.
(Mushola : keterangan tempat; di : konjungsi)
Pelengkap
Pelengkap memberi penjelasan lebih jauh dari makna suatu kalimat. Berbeda dengan keterangan, unsur pelengkap tidak memerlukan kata hubung sebelumnya.
Julia memberikan Anna kado Boneka
(kado boneka : pelangkap)
Semua peraturan di Indonesia berdasarkan UUD 1945
(UUD 1995 : pelengkap)
Pengklasifikasian Kalimat
Kalimat memiliki beberapa jenis yang membedakannya satu sama lain. Pembagian jenis–jenis kalimat didasarkan pada 1) pengucapan; 2) jumlah frasa atau struktur gramatikal; 3) isi atau fungsi; 4) unsur kalimat; 5) pola subjek – predikat; 6) gaya penyajian; dan 7) subjeknya. Untuk memperjelas, berikut ini ulasannya.
1. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pengucapannya
Berdasarkan pengucapannya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis, yakni kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.
1.1. Kalimat Langsung
Kalimat langsung merupakan kalimat hasil kutipan dari ucapan seseorang tanpa melalui perantara dan tanpa merubah sedikitpun apa yang ia utarakan. Kalimat ini ditandai dengan penggunaan tanda petik untuk membedakan kalimat kutipan dengan kalimat penjelas.
Contoh :
“Riana akan pulang nanti sore,” Desti memberi kabar
Andriana berkata, “Aku mungkin tidak akan pulang malam ini. Besok aku beri kabar lagi.”
“Andai waktu itu ibumu ini tidak lari, Nak,” Ibu mulai bercerita, “tidak mungkin kamu bisa sampai sebesar ini. Karena kalo ibu tidak lari, kita pasti ikut hangus bersama desa kita.”
1.2. Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung merupakan kalimat yang menceritakan kembali isi atau pokok ucapan yang pernah disampaikan seseorang tanpa perlu mengutip keseluruhan kalimatnya.
Contoh :
Aku pernah mendengar Aisya bercerita bahwa sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan kabar perjodohan yang diatur oleh orang tuanya.
Tadi Bu Neti berpesan jika hari beliau tidak dapat masuk kelas karena suatu urusan. Namun, beliau memberikan tugas untuk mengerjakan LKS halaman 75.
Burhani mengancam tidak masuk sekolah bila ia masih merasa mendapat bully-an dari teman sekelasnya.
2. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Frasanya (Struktur Gramatical)
Dilihat dari jumlah frasanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat tunggal (terdiri dari kalimat nominal dan kalimat verbal) serta kalimat majemuk (terdiri dari kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat, dan majemuk campuran).
2.1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal merupakan kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa, yang terbentuk dari satu pola. Berikut ini pola – pola dalam kalimat tunggal beserta contohnya
NoPola KalimatKategori KataContoh1Subjek (S) + Predikat (P)Kata Benda (KB) + Kata Kerja (KK)Pendemo berorasi.Kata Benda + Kata Sifat (KS)Pemilik villa itu menakutkan.Kata Benda + Kata Bilangan (KBil)Harga sofa itu dua juta rupiah2S + P + Keterangan (K)KB + KK +(Konjungsi + Kata Benda)Ayu menari dengan gemulai.3S + P + Pelengkap (Pel)KB1 + KK + KB2Mukanya bersemu merah.4S + P + OKB1 + KK + KB2Ayah membeli roti.5S + P + O + KKB1 + KK + KB2 +(Konjungsi + KB3)Rasya menikahi gadis itu di Bali.6S + P + O + PelKB1 + KK + KB2 + KB3Ayah membelikan aku sebuah bunga.
Kalimat tunggal berdasarkan jenis predikat yang digunakan, dibagi menjadi dua yakni kalimat nomina dan kalimat verbal
Kalimat Nomina
Kalimat nomina merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata benda (kata bilangan atau kata sifat) sebagi predikat
Contoh :
Tentara itu tewas di medan perang.
Adik saya ada dua orang
Kalimat Verbal
Kalimat verbal merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata kerja sebagai predikat.
Contoh :
Andi mengayuh sepedanya pelan.
Siska makan di kamarnya.
2.2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk merupakan kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan. Berdasarkan kedudukan satu kalimat tunggal dengan yang lain, kalimat majemuk dibedakan menjadi kalimat majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara), bertingkat (baca : contoh kalimat majemuk bertingkat), dan campuran (baca : contoh kalimat majemuk campuran).
Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara merupakan kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal, di mana kedudukan masing masing kalimat tersebut setara. Kalimat majemuk setara dibagi lagi menjadi beberapa jenis, seperti berikut
1. Kalimat majemuk setara penggabungan, biasanya ditandai dengan penggunaan kata hubung (konjungsi) “dan” atau “serta”.
Contoh :
Saya bertanggung jawab atas kedatangan peserta hingga ke penginapan dan Andi akan mengambil tanggung jawab tentang segala keperluan peserta sesampainya di sana.
2. Kalimat majemuk setara pertentangan, biasanya ditandai dengan kata hubung (konjungsi) “tetapi”, “sedangkan”, “melainkan”, “namun”, dan sebagainya.
Contoh :
Kelas kami akan mengadakan study tour ke Palembang, namun dia memilih untuk tidak ikut.
3. Kalimat majemuk setara pemilihan, biasanya ditandai dengan kata hubung “atau”.
Contoh :
Riana masih bingung menentukan antara ikut menemani ibunya kuliah di Jerman atau tetap tinggal di sini bersama ayahnya.
4. Kalimat majemuk setara penguatan, biasanya ditandain dengan kata hubung “bahkan”.
Contoh :
Dia memang pemuda yang cerdas, bahkan di usianya yang ke-17 ia sudah mendapatkan gelar sarjana pertamanya.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat merupakan kalimat yang menggabungkan dua kalimat tunggal atau lebih di mana satu sama lain memiliki kedudukan yang berbeda, yakni sebagai induk kalimat dan anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat dapat dibagi menjadi 10 jenis berdasarkan penggunaan kata hubung atau konjungsinya, yakni,
1. Waktu : “ketika”, “sejak”, “saat ini”, dsb.
Contoh :
Anak itu sudah lama hidup sendiri semenjak orang tuanya meninggal ketika dia masih bayi.
2. Sebab: “karena”, “oleh karena itu”, “sebab”, “oleh sebab itu”, dsb.
Contoh :
Tia memuntus pergi dari rumah karenaia tidak kuat lagi melihat kelakuan ayahnya.
3. Akibat: “hingga”, “sehingga”, “maka”, dsb.
Contoh :
Kebakaran hutan itu meluas hinggaasap kabut yang ditimbulkan berdampak hingga Singapura dan Malaysia.
4. Syarat: “ jika”, “asalkan”, “apabila”, dsb.
Contoh :
Ani bersedia menerima lamaran Ali, apabila kedua orang tuanya merestui hubungan mereka.
5. Perlawanan: “meskipun”, “walaupun”, dsb.
Contoh :
Meskipun diiming – imingi uang ganti rugi yang besar, warga Kampung Barang tetap menolak dipindahkan.
6. Pengandaian: “andaikata”, “seandainya”, dsb.
Contoh :
Seandainya Risko menunggu lebih lama lagi, ia pasti akan berjumpa dengan Dewi di kafe itu.
7. Tujuan: “agar”, “supaya”, “untuk”, dsb.
Contoh:
Triana menutuskan pindah ke apartemen ini agar lebih dekat dengan kantornya.
8. Perbandingan: “bagai”, “laksana”, “ibarat”, “seperti”, dsb.
Contoh :
Budak itu jatuh cinta pada putri kerajaan bagaikan punguk yang merindukan bulan.
9. Pembatasan: “kecuali”, “selain”, dsb.
Contoh :
Dia sangat jago di semua mata pelajaran kecuali pelajaran olahraga.
10. Alat: “dengan + kata benda”
Contoh:
Orang itu pergi ke kantor dengan menggunakan mobil.
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk setara merupakan kalimat majemuk yang menggabungkan kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk setingkat. Kalimat majemuk campuran terdiri dari sekurang – kurangnya tiga kalimat tunggal.
Contoh :
Patria sedang memasak dan Toni menonton TV di ruang keluarga, ketika aku tiba di rumah mereka.
(kata hubung “dan” menyatakan kaimat majemuk setara, kata hubung “ketika” menyatakan kalimat majemuk bertingkat.)
3. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Isi atau Fungsinya
Menurut pembagian berdasarkan isi atau fungsi suatu kalimat, kalimat dibedakan menjadi lima jenis, seperti berikut
3.1. Kalimat Berita atau Pernyataan (Deklaratif)
Merupakan kalimat yang bertujuan untuk menyampaian suatu informasi. Kalimat ini dalam penulisannya di akhiri dengan tanda baca titik (.).Dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya memiliki intonasi yang menurun.
Contoh :
Ari tengah berlari ke hutan. (memberitahu kepastian)
Aku menolak hadir dalam acara tersebut. (memberitahu pengingkaran)
Pemain baru itu sepertinya tidak periu dikhawatirkan. (memberitahu kesangsian)
3.2. Kalimat Tanya (Interogatif)
Merupakan kalimat digunakan untuk mencari tahu suatu informasi atau jawaban atau respon dari lawan bicara. Kalimat ini dalam penulisannya di akhiri dengan tanda baca tanya (?). Contoh :
Bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah kau sudah bertemu langsung dengan ayahnya?
Di mana kamu tinggal sekarang?
Siapa yang mengantarkanmu ke rumah tadi?
Kapan terakhir kali Anda melihat pria tersebut?
Mengapa kamu nampak ceria sekali hari ini?
3.3. Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah merupakan kalimat yang bertujuan untuk memberikan perintah kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam penulisannya, kalimat perintah akan diakhiri dengan tanda baca seru (!). Serta dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya digunakan intonasi yang meninggi.
Contoh :
Tolong ambilkan kertas di meja itu! (permohonan)
Jangan mendekat! (larangan)
Mari kita jaga kelestarian hutan lindung? (ajakan)
3.4. Kalimat Seruan
Kalimat seruan digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Sama seperti kalimat perintah, dalam pelafalannya pada akhir kalimat biasanya ditandai dengan intonasi yang tinggi. Dalam penulisannya, kalimat seruan juga diakhiri dengan tanda seru (!).
Contoh :
Wah, indah sekali pantai!
Hore, aku menang!
3.5. Kalimat Pengandaian
Kalimat pengandaian bertujuan untuk menggambarkan keinginan atau tujuan dari penulis atau pembicara yang belum atau tidak terwujud. Kalimat pengandaian dalam penulisannya diakhiri dengan tanda baca titik (.).
Contoh:
Andai saja aku bisa mengulang waktu kembali.
Seandainya aku menjadi dokter nantinya, aku hanya akan pergi ke daerah terpencil dan memberikan pengobatan bagi yang membutuhkan di sana.
4. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Unsur Kalimat
Dilihat dari unsur di dalamnya, kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yakni,
4.1. Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap merupakan kalimat yang sekurang – kurangnya terdiri atas sebuah subjek dan sebuah predikat. Kalimat majas dapat dikategorikan sebagai kalimat lengkap
Contoh:
Anak – anak bermain di lapangan
S P K
Ayah membeli mobil baru
S P O
4.2. Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap merupakan kalimat yang tidak sempurna. Kalimat dengan bentuk tidak sempurna kadang hanya memiliki sebuah subjek saja, sebuah predikat, atau bahkan hanya terdiri atas objek dan keterangan. Kalimat ini biasanya digunakan untuk kalimat semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan, dan kekaguman.
Contoh:
Hei, Diana!
Rajin pangkal pandai.
Wah, indah sekali!
Terima kasih.
Selamat sore!
Tidak.
5. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pola Subjek – Predikat
Apabila ditinjau dari struktur serta susunan atas subjek dan predikatnya, kalimat dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni,
5.1. Kalimat Versi
Kalimat versi merupakan kalimat yang sesuai dengan susunan pola kalimat dasar pada Bahasa Indonesia (S – P) atau (S – P – O – K) atau (S – P – K ) dan lain sebagainya.
Contoh:
Aku berjalan sejauh tiga kilometer.
S P K
Diah membeli sepatu di Pasar Anyer
S P O K
5.2. Kalimat Inversi
Kalimat inversi merupakan kalimat yang memiki ciri khas adanya predikat yang mendahului kata subjek. Kaliman versi biasanya digunakan untuk menyampaikan penekanan atau ketegasan makna. Kata pertama yang muncul merupakan kaa yang menjadi penentu makna kalimat sekaligus menjadi kata yang menimbulkan kesan terhadap pembaca maupun pendengarnya.
Contoh:
Bawa gadis itu ke hadapanku!
P S K
6. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Gaya Penyajian
Berdasarkan gaya penyajiannya, kalimat dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni,
6.1. Kalimat yang Melepas
Kalimat ini merupakan kalimat yang ditulis maupun diucapkan menggunakan dengan gaya penyajian melepas. Gaya penulisan melepas ditandai dengan kalimat majemuk di awali dengan induk kalimat atau kalimat utama serta diikuti oleh anak kalimatnya.
Contoh :
Putri tidak akan tertinggal kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang.
(“Putri tidak akan tertinggal kereta” merupakan kalimat induk, “kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang” merupakan anak kalimat.)
6.2. Kalimat yang Klimaks
Kalimat ini terbentuk ketika suatu kalimat majemuk disajikan dengan cara menempatkan anak kalimat di depan kalimat induknya. Kalimat ini biasanya ditandai dengan penggunaan tanda baca koma (,).
Contoh :
Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat, mungkin nyawanya masih bisa tertolong
(“Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat” merupakan anak kalimat, “mungkin nyawanya masih bisa tertolong” merupakan kalimat utama)
6.3. Kalimat yang Berimbang
Kalimat yang berimbang biasanya tersusun dalam bentuk kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk campuran. Gaya penyajian berimbang bertujuan untuk menunjukan kesejajaran bentuk dan informasinya.
Contoh :
Harga daging sapi menjelang Idul Adha melonjak, pedagang dan konsumen mengeluhkan tingginya kenaikan.
7. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Subjeknya
Jika dilihat dari subjeknya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis,yakni kalimat aktif dan kalimat pasif.
7.1. Kalimat Aktif
Kalimat aktif merupakan kalimat di mana unsur subjek di dalamnya melakukan suatu tindakan (pekerjaan). Kalimat jenis ini akan menggunakan predikat dengan awalan “me-” dan “ber-” serta predikat yang berupa kata kerja yang tidak dapat diberikan awalan “me-”, seperti mandi, pergi, tidur, dan lain sebagainya.
Contoh :
Ani pergi ke pasar.
Surya merangkak di kegelapan agar tidak terlihat musuh.
Kalimat aktif dapat dikategorikan kembali menjadi 3 jenis, yaitu,
Kalimat Aktif Transitif
Kalimat aktif ini dapat disisipi unsur objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya memiliki predikat yang berawalan “me-” dan dapat dirubah ke dalam bentuk pasif.
Contoh :
Mereka membuat peta dengan skala 1 : 1.000.000. (bentuk aktif)
Peta dengan skala 1 : 1.000.000 dibuat oleh mereka. (bentuk pasif)
Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat aktif ini tidak memungkinkan diikuti oleh objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya menggunakan predikat yang berawalan “ber-” dan tidak dapat di rumah menjadi kalimat pasif.
Contoh :
Polisi berjaga di sekitar tempat pengeboman.
Kucingku beranak tiga.
Kalimat Semi Transitif
Kalimat ini merupakan kalimat aktif yang tidak dapat dirubah menjadi bentuk pasif karena kalimat ini diikuti oleh unsur pelengkap bukan objek.
Contoh :
Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden keenam Indonesia
S P Pel
Keputusan ini berdasarkan hasil musyawarah
S P Pel
7.2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau tindakan. Kalimat pasif biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan “di-” dan “ter-” serta diikuti kata depan “oleh”. Kalimat pasif dibedakan kembali menjadi dua bentuk, yakni,
Kalimat Pasif Biasa
Kalimat pasif ini merupakan kalimat hasil dari transformasi kalimat aktif transitif. Kalimat pasif ini memiliki predikat yang memilki imbuhan “di-”, “ter-”, “ke-an”.
Contoh:
Bola ditendang Adnan.
Kertas itu tertiup angin.
Kalimat Pasif Zero
Kalimat pasif ini memiliki objek pelaku yang berdekatan dengan objek penderita tanpa adanya sisipan kata lain. Predikat pada kalimat ini menggunakan akhiran “-kan” dan tanpa disertai awalan “di-”. Selain itu, predikatnya juga dapat berupa kata dasar dari kata kerja.
Contoh :
Akan aku tunjukan kemampuanku disini.
Akan saya sampaikan pesanmu padanya.
Sekian penjelasan jenis jenis kalimat beserta contohya. Semoga artikel ini bermanfaat.
Tanda Baca
Penggunaan Tanda Baca Menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD) – Dalam menulis tanda baca merupakan salah satu elemen yang wajib kita perhatikan. Tanda baca berkaitan erat dengan suara (fonem). Hal ini dikarenakan tanda baca mempengaruhi intonasi ketika membaca suatu tulisan dan intonasi sangat mempengaruhi intepretasi suatu kalimat (baca juga : jenis jenis kalimat).
Sering kali, kita masih dibingungkan dengan penggunaan berbagai tanda baca yang ada. Untuk itu, berikut kami berikan ulasan tentang tanda baca beserta contoh penggunaannya berdasarkan kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD).
Tanda Titik (.)
Seperti yang sudah kita ketahui, tanda titik digunakan untuk mengakhiri suatu kalimat pernyataan, namun tanda titik sebenarnya masih memiliki berbagai kegunaan lain. Di bawah ini merupakan kaidah penggunaan tanda titik menurut ejaan yang disempurnakan (EYD):
1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan.
Contoh:
Ani sedang belajar di rumah.Toni menolak pernyataan yang disampaikan oleh Budi.
Dalam penggunaan tanda titik di akhir kalimat, terdapat beberapa pengecualian sebagai berikut,
1.1. Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.
Misal:
Seminar Nasional Konsumen Cerdas (nama acara)Pembahasan (judul bab)Gambar 3 Struktur Sel HewanTabel 6 Keikutsertaan Indonesia di Ajang Olimpiade 1988 s.d. 2012
1.2. Tanda titik tidak digunakan pada akhir alamat penerima dan pengirim surat, serta tanggal surat.
Misal:
Kepala SD Negeri 1 Jayakarta
Jalan Pemuda 36
Jayakarta
Jakarta 10320
2. Kepala Badan Eksekutif Mahasiswa
Kampus IPB Dramaga
Bogor
3. 30 Juni 2015
4. Jakarta, 4 November 2015
2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Contoh:
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
III. Kesimpulan dan Saran
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia
A. Penggunaan Tanda Hubung
B. Penggunaan Tanda Baca
B.1 Penggunaan Tanda Titik (.)
B.2 Penggunaan Tanda Koma (,)
Dalam penggunaan tanda titik di belakang angka atau huruf, ada beberapa pengecualian sebagai berikut,
2.1. Tanda titik tidak dipergunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.
Misal:
(BENAR)
Teks Anekdot (baca juga : contoh teks anekdot)memiliki tujuan sebagai berikut,
(1) menyampaikan kritik atas suatu fenomena atau tokoh.
(2) menghibur pembaca.
(SALAH)
Fungsi dari bahasa nasional antara lain,
(1.) lambang nasional
(2.) identitas nasional
(3.) alat pemersatu bangsa
2.2. Tanda titik tidak dipergunakan pada akhir penomoran digital lebih dari satu angka.
Misal:
(BENAR)
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
(SALAH)
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan
2.3. Tanda titik tidak dipergunakan di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka pada judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.
Misal:
(BENAR)
Bagan 2 Struktur Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa
Grafik 1.1 Distribusi Pendapatan Petani di Desa Karangmuncang
(SALAH)
Gambar 7. Gedung SMP Negeri 2 Wonowari
Tabel 1.1. Kondisi Irigasi di Desa Babakan Jati
3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Contoh:
Pukul 11.25.37 (pukul 11 lewat 25 menit 37 detik atau pukul 1, 25 menit, 37 detik)23.23 (3 jam, 23 menit, 23 detik)34 (pukul 12 malam lewat 34 detik)23.49 jam (23 menit, 49 detik)00.53 jam (53 detik)
4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit untuk penulisan daftar pustaka berupa buku. Sedangkan untuk penulisan daftar pustaka dari artikel, tanda titik digunakan di antara nama penulis, tahun, judul artikel, nama jurnal, dan edisi.
Contoh:
Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.
5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Contoh:
Jumlah buku Raditya Dika yang terjual mencapai 1.000.000 eksemplar.Untuk menyelenggarakan acara tersebut, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp2.789.000.000,00.Kapasitas stadion sepak bola baru yang akan dibangun di Kota Bogor diperkirakan mampu menampung lebih dari 80.000 suporter.
Dalam penggunaan tanda titik untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya, terdapat beberapa pengecualian sebagai berikut,
5.1.Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misal:
Ayah saya lahir pada tahun 1956.Kata pungtuasi terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa halaman 1078.Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke nomor rekening 133007693928.
6. Tanda baca titik digunakan untuk singkatan gelar, baik akademik maupun kebangsawanan.
Contoh:
Siti Raminah, S.E.Otto Iskandar Dijaya, Ph.D.R.A. Kartini
Tanda Koma (,)
Berikut ini kaidah penggunaan tanda baca koma menurut ejaan yang disempurnakan:
1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Contoh:
Seminar tersebut akan dihandiri oleh menteri, rektor, serta pembiacara-pembiacara yang tak kalah luar biasa.Wati, Indra, dan Siska merupakan tiga bersaudara.Lomba ini akan memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga.
2. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung (konjungsi) yang menunjukkan pertentangan, seperti tetapi, melainkan,sedangkan, dan lain sebagainya dalam kalimat majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara).
Contoh:
Anita bekerja di salah satu perusahaan swasta, tetapi gaji yang ia terima jauh dibawah rata-rata.Ayahnya bukan pegawai bank, melainkan manajer di salah satu di perusahaan swasta.Ibu bertugas memasak di dapur setiap harinya, sedangkan Ani mencuci peralatan kotor yang ada.
3. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang dalam penulisannya mendahului induk kalimat.
Contoh:
Demi mencegah terjadinya tindak kenjahatan, aparat kepolisian merazia setiap kendaan bermotor yang lewat di Jalan Juanda siang itu.Karena dosen memiliki sebuah urusan, perkuliahan pada hari ini ditiadakan.Bila ia datang, maka aku memilih untuk tetap tinggal.
Sebagai catatan, untuk induk kalimat yang ditulis terlebih dahulu dari anak kalimat, maka tidak perlu ditambahkan tanda baca titik di antara keduanya.
Misal:
Kelas diliburkan karena dosen yang mengajar sedang ada urusan.Dia mendapat nilai tertinggi di ujian karena dia paling rajin ketika di kelas.
4. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat, sepertioleh karena itu, jadi, dengan demikian,sehubungan dengan itu, meskipun demikian, dan lain sebagainya.
Contoh:
Rani merupakan murid dari sekolah unggulam. Oleh karena itu, orang tuanya berharap fokus untuk belajar tanpa terganggu kegiatan lainnya.Pak Salhan memang dikenal baik oleh warga sekitar. Jadi, wajar saat warga mengajukannya menjadi ketua RW di komplek tempat dingga mereka.Raihan memang kesulitan dalam hal memahami materi perkuliahan. Meskipun demikian, ia tidak pernah menyerah untuk terus belajar.
5. Tanda koma digunakan sebelum dan/atau setelah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, hai, dan lain sebagainya. Selain itu tanda koma juga digunakan sebelum dan/atau sesudah kata sapaan, seperti Bu, Dik, Kak, dan lain-lain.
Contoh:
Selamat siang, Dik! da yang bisa saya bantu?Aduh, gue lupa bawa laporan praktikum kedua.Ya, Shinta baru menyadari kemiripan kedua tas tersebut.
6. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh:
Ayah berpesan, “Empat tahun dari sekarang, Ayah tunggu prestasi yang membanggakan.”“Saya berkenalan dengan Tania sekitar 4 tahun lalu.”, Diska memulai ceritanya, “Ibunya seoramg guru, sedangkan ayahnya mendekam di perjara.”“Kamu sedang apa?”, tanya Toni
7. Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah apabila ditulis secara berurutan.
Contoh:
Saudara Arya Hendrata, Jalan Beo Raya 45, Jakarta UtaraDr. Ir. Lia Mulia, M.Sc.Bukittinggi, 23 April 1987Dramaga, Bogor, Jawa Barat
8. Tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Selain itu tanda koma juga digunakan untuk memisahkan masing-masing nama apabila suatu buku atau artikel memiliki lebih dari satu penulis dalam daftar pustaka.
Contoh:
Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.
9. Tanda koma digunakan di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Contoh:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), 25.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
10. Tanda koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya. Penggunaan tanda koma in bertujuan untuk membedakan gelar akademis dengan singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Contoh:
Ayu Aji Putri Setia Utami, S.E., M.Agribuss.Bambang S.H.
Hanya karena sebuah tanda koma, suatu kalimat dapat memiliki arti yang sangat berbeda.
Misal:
Dara Atika, S.H. (sarjana hukum, gelar akademik) berbeda dengan Dara Atika S.H. (Setia Hasna, singkatan nama)
11. Tanda koma digunakan sebelum angka decimal atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh:
Jarak kota A ke kota B sekitar 14,2 km.Diana membeli gula sebanyak 3.5 kg.Ima department store memberikan harga khusus untuk semua rok yang mereka jual, yakni seharga Rp99.999,99.
12. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau aposisi.
Contoh:
Soeharto, Presiden II RI, sering disebut sebagai Bapak Pembangunan.Leiden, salah satu kota di Belanda, menawarkan pesona wisata kota tua bagi para pendatangnya.
13. Tanda koma digunakan di belakang keterangan yang terdapat pasa awal kalimat untuk menghindari salah baca atau salah pengertian.
Contoh:
Dalam rangka mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia, BEM FEM IPB mengadakan acara Bogor Art Festival.
Bila tidak menggunakan tanda koma, maka kalimat akan di atas akan menjadi, Dalam rangka mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia BEM FEM IPB mengadakan acara Bogor Art Festival, yang sulit untuk dibaca dan dimengerti.
Tanda Titik Koma (;)
Berikut ini beberapa penggunaan tanda titik koma (;) untuk berbagai tulisan:
1. Tanda titik koma dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara lainnya dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Ayah baru saja pulang; anak-anak masih belum tidur.Tono bertugas menyiapkan alat dan bahan; Wati bertugas membuat pudding; Cita bertugas menjual pudding yang sudah dibuat.
2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.
Contoh:
Di buka lowongan untuk Management Trainee, dengan kriteria sebagai berikut:
(1) lulusan S-1 dengan IPK minimal 3.00/4.00 (untuk universitas negeri) atau 3.25/4.00 (untuk universitas swasta);
(2) memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lancar, baik tertulis maupun lisan;
(3) sehat jasmani dan rohani;
(4) bersedia mengikuti program trainingselama satu tahun.
3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Contoh:
Berikut susunan acara untuk acara pada pagi hari ini:Pembukaan oleh MC;Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne IPB, dan Mars FEM;Sambutan Ketua Panitia; …Setiap peserta harus memilih satu barang dari payung, jas hujan, atau topi; kamera, laptop, atau smartphone; liburan ke Bali, Lombok, atau Yogjakarta.
Tanda Titik Dua (:)
Berikut ini berbagai penggunaan tanda baca titik dua menurut kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD):
1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Contoh:
Andi dan Sila mengisi rumah baru mereka dengan berbagai perabotan rumah tangga: sofa, kasur, lemari, dan sebagainya.Andi mempertaruhkan segalanya dalam tes ini karena baginya hanya ada dua pilihan: lolos tes beasiswa ke Belanda atau kembali pulang ke kampung menggarap sawah milik keluarga.
Meski digunakan dalam pemerincian, namun tanda titik dua tidak digunkan untuk penjelasan atau pemerincian yang mengakhiri suatu pernyataan.
Misal:
(BENAR)
Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan balon, gabus warna, dan juga pita hias.
(SALAH)
Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan: balon, gabus warna, dan juga pita hias.
2. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua : Ramadhan F.N.
Sekretaris : Riana Putri
Bendahara: Sita Novita
3. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama atau lakon sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Pemuda : “Ini tidak bisa dibiakan begitu saja, Pak Kades!”
Warga desa : “Benar sekali, Pak.”
Pemuda : “Sudah dua orang tewas karena kelakuan dukun santet itu, Pak!”
4. Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul, serta (d) nama koa dan penerbit dalam daftar pustaka.
Contoh
Horizon XLII, No. 8/2008: 8Surah Al-Baqarah: 2-5Dari Pemburu ke Terapeutik: Analogi Cerpen NusantaraSatria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.
Tanda Hubung (-)
Berikut ini contoh-contoh pemakaian tanda hubung sesuai EYD:
1. Tanda hubung digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Contoh:
Dalam pelaksanaannya, sering kali terjadi kesalahan-kesalahan yang ti-
dak diinginkan.
Ketika sedang mencuci di sungai, bawang putih menyelamakan seekor i-
kan mas.
2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
Contoh:
pura-purabolak-balikkemerah-merahan
3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang ditulis dengan angka atau menyambung huruf yang telah dieja satu per satu.
11-12-2013I-n-d-o-n-e-s-i-a
4. Tanda hubung digunakan untuk memperjelas hubungan kata atau ungkapan
Contoh:
Ber-ganti-anDua-puluh-lima ribuan (25 x 1000)Dua-puluh lima-ribuan (20 x 5000)
5. Tanda hubung digunakan untuk merangkai.
Contoh:
Se-Kabupaten, Se-JawaTengahKe-2, ke-3Tahun 2000-an, 1960-anBer-KTP, sinar-X, KTP-mu, SIM-kuD-3, S-1, S-2, S-3
Namun, tanda hubung tidak dapat digunakan di antara huruf dan angka, apabila angka tersebut menunjukkan jumlah huruf, misal BP3K; LP3I; P3K; dan ain sebagainya.
6. Tanda hubung digunakan untuk merangka unsur bahasa Indonesia dengan bahasa lain, baik bahasa daerah maupun asing.
Contoh:
Meng-uploadDi-sowan-i
7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.
Contoh:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sansekerta.Akhiran –isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.
Tanda Pisah (—)
Berikut ini kaidah penulisan tanda baca pisah (—) yang sesuai dengan EYD,
1 .Tanda pisah dapat digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan selain yang telah disebut di bangun kalimat.
Contoh:
Rani terjatuh—saya yakin dia menangis—dari sepeda kumbangnya dan masuk ke got depan komplek.
2. Tanda pisah digunakan untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan lain.
Contoh:
Atlet sekelas Taufik Hidayat—penyabet medali emas di Yunani—harusnya mendapat apresiasi yang pantas dari negera atas usahanya mengharumkan nama bangsa Indonesia.Penemuan teori Big Bang—teori yang menyatakan bahwa semesta terbentuk atas satu ledakan maha dahsyat—telah merubah pemahaman kita terhadap alam semesta.
3. Tanda pisah digunakan antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Contoh:
23-28 Januari 2016Dari tahun 1997-2007Jakarta-Bandung
Tanda Tanya (?)
Di bawah ini merupakan contoh penggunaan tanda tanya dalam penulisan,
1. Tanda tanya digunakan di akhir kalimat tanya.
Contoh:
Kapan hari kemerdekaan Indonesia?Berapa jumlah provinsi di Indonesia?
2. Tanda tanya yang dikurung digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang disangsikan atau kurang terbukti kebenarannya.
Contoh:
Dimas Kanjeng mampu menggandakan uang (?)Ada hantu ‘Satpam Terbang’ yang berkeliaran di asrama (?)
Tanda Seru (!)
Tanda seru digunakan untuk mengakhiri kalimat yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan emosi yang kuat, kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa takjub.
Contoh:
Hidup mahasiswa!Benar-benar indah pantai ini!Deskripsikan gambar tersebut dalam satu kalimat!
Tanda Elipsis (…)
Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda elipsi sesuai dengan kaidah EYD.
1. Tanda Elipsis digunakan untuk menunjukan bahwa suatu kalimat atau kutiban ada bagian yang sengaja dihilangkan.
Contoh:
Dalam UUD 1945 disebutkan empat tujuan Negara Indonesia, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, ….Menurut … maka diprediksi dunia akan kekurangan pangan dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun lagi.
2. Tanda elipsis digunakan untuk menulis perkataan yang tidak selesai dalam dialog.
Contoh:
“Bagaimana jika kita … Bukankah itu lebih baik?”“ … Ya sudah saya ikuti apa kata mereka saja.”
Dalam penggunaan tanda elipsis, ada beberapa kaidah penulisan yang harus di perhatikan yakni,
Tanda elipsis diawali dan diikuti dengan spasi.Untuk penggunaan tanda ellipsis di akhir kalimat diikuti dengan tanda titik, sehingga tanda titik nantinya berjumlah 4 buah.
Tanda Petik (“…”)
Di bawah ini merupakan kaidah penggunaan tanda petik berdasarkan EYD.
1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, dialog, dan sejenisnya.
Contoh:
“Jam berapa ini?”, tanya Andri pada perempuan di sampingnya.Menurut Pasal 31 UUD 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan”.
2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, bab buku, dan lain-lain yang disebutkan dalam suatu kalimat.
Contoh:
Film “Dr. Strange” yang dibintangi actor Benedict Cumberbatch kini tengah merajai box office.Buatlah resensi dari novel “Laskah Pelangi”!
3. Tanda petik digunakan untuk mengapit istilah dengan arti khusus maupun istilah ilmiah yang kurang dikenal.
Contoh:
Di musim Pemilu ini, dikhawatirkan akan banyak “serangan fajar”.Praktik memberikan “amplop” kepada petugas masih sering terjadi hingga saat ini.
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Berikut ini kaidah penggunaan tanda pentik tungga sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD).
1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan di dalam petikan.
Contoh:
“Sepertinya waktuku cukup untuk membaca novel ‘Edensor’ sembari menunggu kedatanganmu tadi”, ucap Wati kesal.“Andreas, apa kau tadi juga mendengar bunyi ‘pluk’ di belakang pohon sana?”, Rey berbisik takut pada Andreas.
2. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan dari suatu kata atau ungkapan.
Contoh:
terdakwa ‘yang didakwa’pungtuasi ‘tanda baca’matur nuwun ‘terima kasih’policy ‘kebijakan’
Tanda Kurung ((…))
Tanda kurung memiliki beberapa kegunaan dalam penulisan sehari-hari, berikut ini beberapa kegunaan kegunaan tanda kurung menurut kaidah EYD.
1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh:
Lembaga pengkreditan tersebut menyediakan jasa pengkreditan dengan jaminan surat bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB).Mahasiswa Agribisnis IPB sukses menyelenggarakan Lokakarya (workshop) di tujuh kecamatan berbeda di Kabupaten Kuningan.
2. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterang atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Contoh:
Keterangan tersebut (lihat Tabel 2.4) menunjukan jika tren positif investasi syariah di Indonesia dari tahun ke tahun.Artis asal Singapura itu nampak menawan dalam balutan pakaian tradisional Cina bercorak naga (mahluk mitologi Cina) di red carpet acara tadi malam.
3. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan maupun dihilangkan.
Contoh:
Ani pergi berbelanja menggunakan (bus) Kopaja.Liburan kali ini, diperkirakan akan banyak wisatawan yang mengunjungi (pulau) Bali.
4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Contoh:
Penentuan bauran pemasaran ini mempertimbangkan (a) product, (b) price, (c) place, dan (d) promotion.Berkas lamaran harus melampirkan
(1) Akta kelahiran,
(2) Surat berkelakuan baik dari kepolisian,
(3) Surat keterangan kesehatan yang dikeluarkan rumah sakit, dokter, ataupun puskesmah.
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda kurung siku mungkin jarang ditemui di teks tertulis atau naskah lainny, namun kita juga perlu tahu penggunaan tanda kurung siku menurut kaidah EYD seperti yang disebutkan dibawah ini.
1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai tanda koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan naskah asli yang ditulis oleh orang lain.
Contoh:
[Kongres Pemuda II] tanggal 28 Oktober merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Republik Indonesia sehingga diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
2. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterang dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Contoh:
Persamaan antara kedua hal tersebut (perbedaannya telah disebutkan di Bab II [lihat halaman 73-74]) akan dikupas pada bab ini.
Tanda Garis Miring (/)
Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda baca garis miring berdasarkan kaidah EYD.
1. Tanda garis miring digunakan dalam penulisan nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi menjadi dua tahun takwim.
Contoh:
Nomor: 023/A.1/BEMFE/XI/2016Jalan Pemuda III/10Masa bakti 2015/2016
2. Tanda miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Contoh:
mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’pisang rebus/goreng/bakar ‘pisang rebus atau goreng atau bakar’sebelum dan/atau sesudah ‘sebelum dan sesudah atau sebelum atau sesudah’harganya Rp15.000,00/buah ‘harganya Rp15.000,00 untuk setiap buahnya’
3. Tanda garis miring digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Contoh:
Kong/g/res Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928, pada kesempatan tersebut lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya dikumandangkan.
Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat digunakan untuk menunjukan penghilangan bagian kata atau angka tahun dalam konteks tertentu.
Contoh:
Paketnya sudah diterima, ‘kan? (‘kan berarti bukan)Libur ‘lah tiba. (‘lah berarti telah)3-3-’14 (’14 berarti 2014)
Sekian pembahasan tentang penggunaan tanda baca beserta contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat.
Sabtu, 06 Januari 2018
Info Penting!!!
Bapak ibu yg punya saudara/putra/i yg mau ikut melamar jadi volunteer Asian Games XVIII Th 2018 yg akan dialaksanakan 18 Agustus sd 2 September 2018, bisa melamar.
Persyaratan diantaranya :
Mahasiswa, 18 tahun, penampilan menarik, fasih berbahasa asing, ingris, cina, jepang, dll.
Dibutuhkan 10.000 volunteers untuk event di Jkt dan 2.000 volunteers utk event di palembang..
Honor volunteer Rp 600.000/hari.
Silahkan akses informasi lengkap ke www.volunteer.asiangames2018.id
WAWANCARA
Pengertian Wawancara dan NARA SUMBER
Wawancara atau wawancara merupakan suatu bentuk komunikasi verbal atau percakapan antara 2 orang atau lebih dan antara antara pewawancara dan narasumber.Tujuan dari wawancara itu sendiri adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang narasumber.Narasumber adalah orang yang bisa memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pewawancara atau dengan kata lain, narasumber adalah orang yang diwawancarai.Narasumber bisa juga disebut sebagai informan.
Wawancara yang baik disusun dengan menggunakan metode teknik yang lebih sistematis. Dalam wawancara, pertanyaan dan jawaban yang diberikan secara verbal.Usahakan hal ini dilakukan dalam keadaan tatap muka, atau bila diperlukan dapat dilakukan melalui telepon. Hubungan dalam wawancara biasanya bersifat sementara, yaitu dalam jangka waktu tertentu dan kemudian diakhiri. Oleh karena itu juga, pewawancara harus bisa menciptakan suasana akrab, sehingga narasumber bisa memberikan keterangan yang kita inginkan dengan penuh kerelaan.
Jenis-jenis Wawancara
Dalam melakukan suatu wawancara, pewawancara membutuhkan panduan atau panduan yang daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada narasumber. Jadi hampir sama dengan angket, hanya saja jawaban atas pertanyaan dalam wawancara ditulis sendiri oleh pewawancara sesuai dengan jawaban lisan yang dikemukakan oleh narasumber. Adapun jenis-jenis pembicaraan tersebut antara lain:
Wawancara oleh tim atau panel , yaitu wawancara yang dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tapi oleh dua orang atau lebih terhadap seorang yang diwawancarai.Wawancara terbuka , yaitu jenis wawancara di mana informan dengan pasti pasti mereka sedang diwawancarai dan paham akan sesuai dengan ketentuan tersebut.Wawancara tertutup , yaitu jenis wawancara yang umum narasumber tidak diketahui dan tidak jelas mereka sedang diwawancarai untuk keperluan tertentu. Bentuk seperti ini ini akan menyinggung perasaan narasumber, jadi akhirnya dalam suatu penelitian.Wawancara terstruktur , yaitu wawancara dimana pewawancaranya akan menentukan sendiri pertanyaannya dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber. Sebelum diadakan wawancara sudah dibuat daftar pertanyaan yang sangat urut dan terstruktur. Pada jenis wawancara ini, jarang ada pertanyaan yang penting pendalaman yang bisa mengarahkan narasumber agar jangan sampai mengungkap kebohongan.Wawancara tidak terstruktur , yaitu wawancaranya yang digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal. Pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara ini tidak pernah di rekomendasikan dulu, dan biasanya pertanyaan ini mengalir begitu saja, alur kerja yang telah diciptakan.Wawancara riwayat secara lisan , yaitu wawancara yang dilakukan terhadap orang-orang yang pernah membuat sejarah karya ilmiah, sosial, pembangunan, perdamaian, dan sebagainya.Maksudnya ini untuk mengungkap riwayat hidup, pekerjaan, kesenangan, ketekunan, pergaulan, dan sebagainya.Wawancara bebas , yaitu wawancara dimana pewawancara bebas apa saja kepada narasumber, namun harus diperhatikan pertanyaan itu harus berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.
Tahapan Prosedur Wawancara
A. Tahap Persiapan
PELAJARAN TERKAIT:
Definisi Serta Perbedaan Antara Teater Tradisional Dan Teater ModernContoh Wawancara dengan PedagangTahapan Persiapan WawancaraApa yang Dimaksud Kalimat Definisi?Tata Cara Penulisan KataUrutan Cara Membuat ParafrasaLaporan Hasil Seminar
Jangan Lewatkan

Temukan Cara Menjadi Penyanyi yang Lebih Baik

Penemuan ini Membuat Perusahaan Handuk Kertas Berani!

Bisakah ini Mengobati Akar Penyebab Diabetes?
Menentukan maksud atau tujuan wawancara (topik wawancara).Menentukan informasi yang akan di kumpulkan atau didata.Menentukan dan menghubungi narasumber.Menyusun daftar pertanyaan.
B. Tahap Pelaksanaan
Mengucap salam.Memperkenalkan diri.Mengutarakan maksud dan tujuan wawancara.Menyampaikan pertanyaan dengan teratur.Mencatat dan beban pokok-pokok wawancara.Mengakhiri dengan salam dan meminta kesediaan narasumber untuk dapat dihubungi kembali jika ada yang membutuhkan.
C. Tahap Penyusunan Hasil Wawancara
Tema atau topik wawancara.Tujuan atau maksud dari.Identitas narasumberRingkasan isi. Isi wawancara dapat ditulis dalam bentuk dialog atau dalam bentuk narasi.
Hal-hal yang Seharusnya Dihindari Saat Proses Wawancara Berlangsung
Menyampaikan pertanyaan yang sudah umum atau pasti jawabannya.Menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya.Mintalah narasumber untuk mengulang-ulang balasan.Memotong pembicaraan narasumber.Bersikap lebih pandai dari narasumber.
Sikap-sikap yang Harus Dimiliki oleh Seorang Pewawancara
Netral, kata , pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh narasumber karena tugasnya adalah rekaman seluruh keterangan dari narasumber, baik yang menyenangkan atau tidak.Rama , kata pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat narasumber.Adil , pewarna harus bisa pakai semua narasumber dengan sama.Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua narasumber susuhakurkannya.Hindari menghindarkan , ingatkan harus bisa menghindar, jangan sampai narasumber merasa sedang dihakimi atau diuji. Jika suasana tegang, narasumber sesuai dengan ini dan meminta pewawancara untuk tidak ada hasil. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan kabar agar terarah.
Ilmu & Pendidikan
Nilai-nilai luhur kehidupan merupakan cahaya kehidupan....
Menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan membutuhkan keikhlasan dalam hati, pikiran dan jiwa. Tidak semua perbuatan amoral karena keinginan diri, banyak perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral kehidupan karena dilakukan dengan alasan keterpaksaan. Terpaksa karena merasa didesak dengan kebutuhan hidup.
Orang yang bertindak amoral karena keterpaksaan sebenarnya kurang bersabar dalam menjalani ujian, cobaan kehidupan. Karena pada dasarnya perbuatan negatif dilakukan bukan karena keterpaksaan kebutuhan tapi tidak bisa mengendalikan keinginan duniawi.
Ilmu untuk bersabar dalam menjalani pahit getirnya kehidupan baiknya ditanamkan dalam kesadaran iman yang tergali dengan hati dan jiwa yang suci. Karena melalui hati dan jiwa yang suci inilah yang sebenarnya akan melahirkan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Rabu, 03 Januari 2018
Contoh Esai
Contoh Esai
Kesalahan yang umumnya dilakukan penulis pemula adalah cepat puas dengan esai yang berhasil mereka selesaikan. Kesalahan ini diperparah dengan anggapan bahwa esainya berkualitas baik, bahkan sangat baik. Anggapan semacam ini tentu tidak sepenuhnya salah. Sebagai penulis, kita boleh bangga atau puas dengan apa yang telah kita hasilkan. Namun, ada baiknya kita meminta orang lain membaca esai kita dan meminta pendapat mereka. Hanya orang lainlah yang dapat menilai apakah tulisan kita berkualitas atau tidak. Karena itu, berikut adalah sebuah contoh esai sederhana yang dimaksudkan untuk membantu kita mengorganisasi gagasan kita dengan baik. Perhatikan bagaimana esai berjudul “Pesona Bali” ini menyampaikan gagasan-gagasannya secara sistematis.
Pesona Bali
Siapa tak kenal Bali, pulau kecil di seberang ujung Timur Jawa ini? Pulau indah nan menawan yang dijuluki pulau dewata ini bagai magnit yang menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Bahkan sebelum mengenal nama Indonesia, banyak wisatawan asing lebih dulu mengenal nama Bali. Ada banyak hal yang dapat dinikmati ketika mengunjungi Bali, mulai dari wisata pantai, gunung, budaya, dan lain sebagainya. Jutaan wisatawan mengunjungi Bali setiap tahunnya karena keramahan masyarakatnya, keindahan panoramanya, dan keunikan budayanya.
Pertama, Bali menjadi tujuan wisata dunia karena keramahan masyarakatnya. Sesaat setelah wisatawan menginjakkan kaki di bumi seribu pura ini, senyum ramah penduduk Bali akan menyambut mereka. Masyarakat Bali yang sangat taat menjalankan agama Hindhu dan adat-istiadat mereka ini sangat terbuka dan menghargai para pendatang. Sistem pemerintahan desa yang kuat dengan ribuan banjar di seluruh Bali juga memberi suasana damai dan tentram bagi para wisatawan. Dengan masyarakat yang taat adat, Bali memberikan segala keramahan bagi wisatawan.
Disamping keramahan masyarakatnya, wisatawan jatuh cinta dengan Bali karena keindahan panoramanya. Wisatawan dapat memanjakan diri dengan berjemur di pantai dengan sinar matahari yang hangat di sepanjang garis pantainya. Bagi mereka yang menyukai olah raga pantai seperti surfing, snorkeling, dan diving, Bali adalah surganya. Ombak Pantai Kuta yang bisa mencapai 2-3 meter memberikan tantangan tersendiri bagi para surfers. Tak heran kalau Pantai Kuta sering digunakan sebagai ajang pertandingan surfing internasional. Pantai lain, seperti Sanur, menawarkan keindahan batu koral dan air lautnya yang jernih. Pantai Lovina di Bali Utara memberikan atraksi lumba-lumba bagi mereka yang menyukai binatang laut. Selain pantai, wisatawan yang merindukan udara sejuk pegunungan, Bali tak kalah menariknya. Kintamani, misalnya, memberikan kesejukan dan kesegaran alami. Wisatawan dapat menikmati keanggunan Gunung Batur beserta Danau Batur yang terkenal dan penuh misteri itu. Mereka pun bisa pergi ke Sangeh dengan legenda monyetnya atau ke lereng Gunung Agung yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa dengan pura terbesar di Bali, Besakih. Pendek kata, dari pantai hingga gunung, panorama Bali tiada duanya.
Yang paling mengesankan adalah keunikan budaya Bali yang sudah tersohor ke seluruh dunia. Adat istiadat yang kuat dan tidak pudar dengan derasnya industri pariwisata merupakan daya tarik tersendiri. Perayaan dan festival, baik yang bersifat keagamaan maupun adat, selalu mewarnai kehidupan masyarakat Bali. Galungan, Kuningan, Nyepi, Purnama, Ngaben, dan banyak lagi lainnya mampu menghipnotis para wisatawan. Beragam tarian yang enerjik dan dinamis akan memberikan ingatan yang tak mudah lenyap di benak wisatawan. Ini semua dibarengi dengan irama dan komposisi gamelan yang sesekali lembut, terkadang menghentak, penuh mistik. Lihatlah tari Janger yang dinamis, Pendet yang gemulai, atau Kecak yang magis. Para penarinya pun dihiasi dengan berbagai ornamen, baik baju maupun pernak-pernik lainnya, dengan beragam warna-warni yang mengagumkan. Disamping pesona festival dan tarian, hasil olah budaya penduduk Bali juga mengagumkan. Beragam hasil kerajinan Bali terkenal karena keunikan dan keindahannya. Patung, ukiran, lukisan, atau cindera mata lain dijual dengan harga terjangkau. Semua ini dapat dinikmati di pulau kecil yang dapat dicapai selama dua jam penerbangan dari Jakarta.
Dengan pesona yang dimiliki Bali, tidaklah mengherankan bila Bali dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahunnya. Banyak diantara mereka, sepulang liburan di Bali, mendapatkan pengalaman unik yang sering menjadi inspirasi dan semangat hidup. Jadi, kalau Anda bingung menentukan kemana akan liburan tahun ini, mengapa tidak ke Bali? (527 kata)
Contoh-Contoh Paragraf Pendahuluan
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Menulis Pendahuluan Esai, paragraf pendahuluan dapat dibandingkan seperti gerbang yang menyambut pengunjung untuk memasuki sebuah rumah. Demikian pula paragraf pendahuluan. Paragraf ini harus dirancang sedemikan rupa agar menarik bagi pembaca sekaligus menciptakan suasana sambutan yang hangat agar pembaca melanjutkan membaca isi esai. Untuk mempermudah pembelajaran kita, berikut adalah enam tehnik yang dapat digunakan untuk membuka esai kita dengan menarik dan efektif.
1. Tehnik Pengantar Umum
Topik: Persoalan Banjir di Jakarta
Sebagai ibu kota negara, Jakarta sarat dengan berbagai persoalan. Salah satu persoalan yang dari dulu sampai sekarang belum tertangani dengan baik adalah masalah banjir. Hampir setiap tahun, terutama di musim penghujan pada periode November – Februari, warga Jakarta tidak pernah merasa tenang. Banjir selalu mengancam mereka. Bencana ini selalu datang meskipun tidak pernah diundang. Bagi masyarakat yang tinggal di pinggir sungai-sungai yang membelah Jakarta, masalah ini sudah menjadi santapan rutin di musim penghujan. Secara umum, penyebab banjir di Jakarta disebabkan oleh kondisi geografis/topografis Jakarta, infrastruktur yang minimal, dan perilaku masyarakat.
2. Tehnik Definisi
Topik: Kategori Nilai Kebajikan Manusia
Tidak mudah membuat batasan apa itu nilai, mengingat ada cukup banyak pendapat tentang hal ini yang saling berbeda (lihat Kluckhohn, 1962; Rokeach, 1973; Smith, 1969). Oleh sebab itu, tulisan ini membatasi makna nilai seperti yang diartikan oleh Driyarkara bahwa nilai merupakan hakikat suatu hal, yang menyebabkan hal itu pantas dikejar oleh manusia (Driyarkara, 1966:38). Lebih lanjut, Driyarkara menjelaskan bahwa nilai itu erat berkaitan dengan kebaikan, kendati keduanya memang tidak sama, mengingat bahwa sesuatu yang baik tidak selalu bernilai tinggi bagi seseorang atau sebaliknya. Sebagai contoh, cincin berlian itu baik, tetapi tidak bernilai bagi seseorang yang mau tenggelam bersama kapalnya. Kebaikan itu lebih melekat pada ”hal”-nya, sementara nilai lebih menunjuk sikap orang terhadap suatu hal yang baik. Oleh karena itu, nilai kebajikan dapat dibedakan dalam tiga kategori besar, yaitu nilai fisik, nilai sosial, dan nilai moral.
3. Tehnik Anekdot
Topik: Pelayanan pubik di Jakarta
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelayanan publik di Indonesia sangat parah. Ada adagium yang mengatakan, ”Kalau dapat dipersulit, kenapa dipermudah?” Kejadian berikut memperkuat adagium di atas. Seorang teman yang baru pindah ke Jakarta bermaksud mengurus KTP di salah satu kelurahan di Jakarta Barat. Setelah memenuhi semua persyaratan yang diminta, teman tersebut dengan penuh percaya diri mendatangi kelurahan yang dimaksud. Sebelumnya, saya sudah mengingatkan dia agar menggunakan ”jalur belakang” guna mempercepat pembuatan KPT baru baginya. Namun, dia menolak. Dalam hati saya berkata, ”Belum tahu dia!” Singkat kata, setelah bolak-balik selama seminggu ke kelurahan, bukan KTP yang dia dapatkan, tapi kekesalan dan kejengkelan. Kisah ini menunjukkan bahwa pelayanan publik di Jakarta sangat memprihatinkan.
4. Tehnik Rhetorical Questions
Topik: Merencanakan liburan yang menyenangkan
Bingung menentukan kemana Anda akan berlibur akhir tahun ini? Liburan apa yang murah-meriah namun menyenangkan buat keluarga? Mau ke pantai atau ke pegunungan? Merencanakan liburan memang gampang-gampang sulit. Tanpa persiapan dan perencanaan yang matang, liburan bukan memberi penyegaran tapi malah menimbulkan stres dan kebosanan. Kalau mau gampang, serahkan saja liburan Anda ke travel agent. Namun, liburan seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Salah-salah pemborosanlah yang akan Anda rasakan. Untuk merencanakan liburan yang murah namun menyenangkan, ikutilah tip-tip berikut.
5. Tehnik Reverse Direction
Topik: Kesadaran masyarakat Jakarta akan kebersihan lingkungan
Hidup di lingkungan yang bersih menjadi dambaan setiap orang. Lingkungan yang bersih dan tertata rapi tidak hanya menyehatkan namun juga membuat orang kerasan. Singapura menjadi salah satu negara-kota yang terkenal dengan kebersihan lingkungannya. Denda yang besar diberlakukan untuk semua orang yang membuang sampah sembarangan. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. Alangkah nikmatnya hidup di lingkungan yang sehat dan bersih seperti di Singapura. Sayangnya, kalau kita tinggal di kampung di Jakarta, keinginan untuk tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat masih menjadi impian semata. Kesadaran masyarakat Jakarta akan kebersihan lingkungan masih sangat rendah. Buruknya lingkungan di Jakarta disebabkan oleh perilaku warga yang buruk, pemahaman warga yang rendah akan manfaat kebersihan, dan kurangnya kepedulian berbagai pihak akan lingkungan yang bersih.
6. Tehnik Kutipan
Topik: Makna kehidupan
”Urip mung mampir ngombe.” Demikian bunyi pepatah Jawa yang kedengarannya mengecilkan makna kehidupan. Benarkah hidup hanya sekedar mampir minum? Sedemikian singkatkah hidup sehingga kita tidak bisa berbuat sesuatu? Dalam kesempatan lain, protagonis Forrest Gump dalam filem Hollywood yang sangat populer di 1994 mengatakan, ”Life is like a box of chocholate. You never know what you’re gonna get.” Benarkah hidup tak dapat diduga dan tidak memiliki kepastian? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini senantiasa mengusik kita. Tidak mudah untuk menjawabnya. Namun, dari kedua kutipan tersebut, kita setidaknya mempelajari tiga hal tentang kehidupan: singkat, tak terduga, dan waspada. Tiga kata sifat ini dapat menggambarkan makna kehidupan bagi manusia.
Menentukan Subjek Esai
Apa yang harus ditulis? Inilah pertanyaan yang sering diajukan oleh para penulis pemula. Umumnya mereka menghadapi kebingungan dan kekurang-percayaan diri ketika harus diminta untuk menulis. Sebenarnya, pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak terbatas. Anda dapat menuliskan persoalan apa pun yang dari segala jenis topik: dari persahabatan, politik, sepatu, menjual lilin, sampai esai tentang esai itu sendiri. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa penulis harus cukup memahami topik tersebut sehingga ia dapat membentuk sebuah opini.
Pertanyaan berikut adalah apa batasan dari 'cukup memahami' itu? Jawabannya juga tidak sulit. Sebagai manusia, seperti yang lain, kita pasti 'cukup memahami' dan akrab dengan banyak hal di sekitar kita: persahabatan, hubungan keluarga, pertumbuhan, makan, tidur, dan banyak lainnya. Tentunya semua itu dapat dijadikan pertimbangan dan bahan menulis esai. Hal yang perlu Anda lakukan adalah membiarkan diri berpikir, menimbang-nimbang, dan mencari informasi yang memadai tentang subjek atau topik yang ingin Anda tulis dengan banyak membaca. Semakin banyak informasi yang kita dapatkan tentang subjek yang akan kita tulis semakin paham kita akan subjek tersebut.
Bagaimanapun juga, 'pemahaman yang cukup' untuk menuliskan tema-tema spesifik memerlukan pengetahuan atau pemahaman akan disiplin ilmu tertentu. Kita mungkin bisa menulis sebuah esai mengenai topik seperti persahabatan tanpa perlu memberikan banyak fakta. Namun, untuk topik-topik seperti puritanisme atau sejenisnya, tentunya kita memerlukan informasi yang dapat diuji secara 'ilmiah'. Referensi sendiri bisa didapatkan dari banyak sumber, mulai dari buku sampai media internet. Menulis tentang bidang yang sesuai dengan minat kita juga akan sangat mempermudah dan mempercepat proses penulisan itu sendiri. Karenanya, seorang yang mempunyai hobi dalam satu bidang tertentu juga dapat disebut sebagai seorang yang memiliki 'pemahaman yang cukup'. Bahkan, sekalipun kita tidak menaruh minat yang begitu besar dalam satu bidang pembahasan, kita tetap dapat menulis sebuah esai yang baik asalkan dapat mengumpulkan banyak fakta. Dengan membaca berbagai informasi yang bisa dipertanyakan, dibandingkan, atau yang dapat Anda nilai sendiri, pengetahuan tentang satu bidang baru juga akan Anda dapatkan dengan cepat.
Menulis sebuah esai yang didasari oleh pengetahuan khusus memang cenderung lebih mudah daripada menulis esai tentang hal-hal atau pengalaman yang sudah sering ditemui di sekitar kita. Berbeda dengan kebiasaan yang sering terjadi dalam sebuah opini, seorang penulis esai hendaknya tidak boleh hanya berpegang pada 'perasaan bahwa ia benar', namun lebih beranggapan bahwa 'pikiran saya benar'. Jadi, opini yang terdapat dalam sebuah esai juga harus didasarkan pada apa yang Anda pikirkan dan bukan hanya pada apa yang Anda rasakan. Yang jelas, setiap esai harus memiliki opini, dan opini yang terbaik didasari oleh pikiran dan perasaan.
Karena itu, buka wawasan Anda dengan riset, membaca berbagai sumber, mendengarkan media, dan berbicara dengan orang yang lebih tahu tentang subjek yang akan Anda tulis. Ajukan beberapa pertanyaan berikut untuk mulai mengeksplorasi subjek:
- Apa yang menarik dari subjek atau persoalan ini?
- Mengapa subjek ini penting untuk dibahas?
- Mengapa persoalan ini terjadi?
- Apa penyebabnya?
- Apa yang Anda rasakan terhadap persoalan ini?
- Apa pendapat Anda?
- Apa pengaruh persoalan ini terhadap masyarakat?
- Dan lain-lain
Dengan mempertanyakan subjek atau persoalan yang akan ditulis, Anda akan mendapat lebih banyak informasi dan dapat memberikan opini Anda secara proporsional dan tepat.
-Z41M.36ae